INDUSTRIALISASI
“Gagal merencanakan artinya
merencanakan kegagalan”
Hubungan
antara industrialisasi dan pembangunan sangatlah erat kaitannya terutama bagi
negara dunia ketiga yang sebagian besar berkomitmen terhadapnya. Sebab salah
satu alasannya adalah pandangan mereka mengenai sejahteranya ekonomi
negara-negara maju diawali dengan proses transisi demikian. Dalih lainnya ialah
karena produk-produk berbasis agrikultural yang mereka kembangkan secara
intensif tidak lagi tinggi profitabilitasnya, melainkan semakin tereduksi sebab
berbagai faktor, gaya hidup terutama. Dimana barang-barang manufaktur seperti
handphone, mobil, Tv, kamera yang memiliki value
added lebih tinggi telah secara tidak langsung merebut pasar mereka.
Mekanisme manufaktur akan secara tidak langsung menambah nilai tambah barang
pertanian, membuka lapangan kerja baru bagi sektor rural, dan meningkatkan
produktifitas.
Populasi
yang tumbuh begitu cepat menyebabkan generasi pengangguran membutuhkan
fasilitas kerja baru dan kesempatan ini pun bisa diatasi melalui
industrialisasi. Pengembangan manufaktur juga akan mereduksi tanah yang begitu
luas dibutuhkan jika menggunakan sistem tradisional. Apalagi bagi negara mini
seperti Hongkong atau Singapura industrialisasi merupakan jalan fundamental
pembangunan ekonomi dalam arti tidak ada alternatif lain. Selain itu alternatif
ini akan menyebabkan adanya interdependensi lintas sektor yang secara langsung
meningkatkan integritas nasional. Misalnya sektor pertanian dan peternakan
menjual bahan dasar (raw) kulit
kepada manufaktur kecil yang mengubahnya menjadi barang setengah jadi, barang
ini lalu dijual ke manufaktur yang lebih besar (perusahaan dompet, sepatu atau
tas), lantas manufaktur besar membayar listrik, jasa sosial, layanan ekpedisi
transportasi, sewa, dan lain-lain sehingga membuat distribusi panjang melingkar.
Justifikasi
awal bahwa industrialisasi itu penting biasanya pemahaman kemandirian untuk
membuat sendiri barang dan jasa yang sebelumnya diimpor sehingga membengkakkan
neraca pembayaran negara, untuk mengamankan sistem moneter, foreign exchange, dan menghilangkan
ketergantungan teknologi pada negara dunia pertama yang seringkali menghadirkan
debt relationships. Dimana teknologi
adalah juga basis utama dalam pijakan awal infrastuktur yang harus disediakan
bagi rencana besar tersebut didalam implementasinya. Dalam kenyataanya
negara-negara maju yang tumbuh dengan industrialisasinya bukanlah sebab faktor
kebetulan semata. Alias prinsip ini memang telah direncanakan sejak awal
pembangunan kesejahteraan ekonomi bangsanya. Indutrialisasi mengacu pada
peningkatan pendapatan pada sektor manufaktur dari aktifitas ekonomi makro.
Pertumbuhan industri tidak cukup digunakan sebagai parameter industrialisasi,
sektor lain secara bersamaan pun dapat tumbuh pada tingkat yang sama. Namun
menjaga sektor manufaktur adalah lebih penting untuk menjaga frekuensi
perkembangan tetap stabil.
Klasifikasi Standar Industri Internasional pada kegiatan ekonomi secara
umum dibagi menjadi berikut : 1. Pertanian, Perikanan, dan kehutanan, 2. Pertambangan dan Penggalian, 3. Manufactures,
4. Utilities, 5. Konstruksi, 6. Wholesale, retail, Restautant and Hotel, 7.
Transportasi dan komunikasi, 8. Keuangan, Asuransi dan Real Estate, 9. Comunity
and Personal
service dan 10. Aktivitas lain (Underground
economy). Industrialisasi bukan hanya komitmen pada pengembangan paling
potensial klasifikasi diatas tapi juga secara luas pengembagan transformasi
sosial mencakup ekonomi, politik, pendidikan serta kebudayaan.
Industrialisation berimplikasi besar pada spesialisasi ekonomi pada produksi di
pasar domestik maupun internasional, meningkatkan total output secara signifikan bagi produk manufaktur serta
penyerapan sumberdaya.
Berbagai
pengaruh ketergantungan dari negara dunia ketiga adalah karena minimnya
kapabiliti sehingga tidak ready to
compete dengan developed country.
Pertama pada masalah teknologi, yang ketika negara baru mengimpor terlau banyak
(over) maka akan menurunkan
stabilitas ketenagakerjaan. Sebab dengan lebih efektifnya mesin, perusahaan
tidak akan membutuhkan banyak pekerja, lapangan kerja terminimalisir. Pasar,
dimana saat negara berkembang mengekspor produk pertanian dan manufakturnya ke
negara maju secara berkala akan menutup kesempatan impor mereka sebab masalah
pengangguran dan tuntutan politik serta prusahaan domestik. Ketiga, apapun
alasannya, sekaya apapun sumberdaya alam negara miskin tetap akan membutuhkan
investasi asing sebagai motor bagi pembangunan infrasturktur produksi.
Selanjutnya, SDM yang rendah memaksa mereka mengemis bantuan manusia ahli
negara dunia pertama guna memanajemen sistem ekonominya.
Hal
ini tentu membutuhkan pendidikan yang berkelanjutan dan penularan keahlian
secasa intensif. Biasanya pengaturan terhadap sendi utama negara sampai
mempengaruhi banyak kebijakan yang mengubah pranata sosial demi keuntungan
negara donor meskipun baginya hal itu tidaklah penting. Dan yang terakhir,
dependensi terhadap bantuan pembangunan militer. Pengaturan keamanan adalah
prinsip fundamental sebuah negara bagi yuridiksi kedaulatannya. Namun, peralatan
militer yang vital bagi berjalanya sistem tersebut wajib di impor dari negara
maju sebab tidak mampu membuat sendiri. Dan demi menghilangkan ketakutan akan
ancaman dari masyarakat internasional mereka menjalin aliansi dengan kekuatan
militer regional maupun internasional sehingga harus tunduk pada otoritas
mereka dalam traktat hierarkis. Hal ini biasanya mempengaruhi kebijakan luar
negeri mereka dalam berhubungan agar tidak menimbulkan ketegangan yang
seringkali merugikan disegi ekonomi. Isu yang sedang booming kaitannya dengan
industrialisasi diabad modern ini adalah degradasi lingkungan yang coba diatasi
oleh entitas negara didunia.
Kerusakan
lingkungan secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi industrialisasi.
Banyak hambatan ekspor kenegara maju dengan alasan produk negara berkembang
tidak layak pakai melalui dalih quality standard,
selain tarrifs (enty barriers).
Proteksi ini berpengaruh pada ketimpangan neraca pembayaran akibat turunnya
aktivitas perdagangan juga secara tidak langsung mengurangi kuota impor,
mempermahal harga saing dan kesulitan lisensi. MNC sebagai agen yang dianggap
membantu justru mengeksploitasi dan mengurangi daya saing manufaktur lokal,
sampai pertumbuhan kembali bergantung pada produk pertanian. Secara ekstrem
juga menekan pembuat kebijakan melalui lobi dan atau dorongan negara asalnya.
Harga komoditas yang rendah, serta utang yang tak kunjung lunas memperkesil
pendapatan negara miskin, bahkan banya dari mereka tak mampu membayar khususnya
negara kawasan afrika.
Empat perpektif yang digunakan banyak ahli dalam memandang fenomena kesuksesan
industrialisasi adalah : 1. Industrial Geography yang melihat dari sisi
seberapa tepat penempatan daerah manufaktur, perilaku manusia, penggunaan model
yang tepat untuk semaksimal mungkin mereduksi biaya dan memaksimalkan revenue dengan pendekatan wilayah. 2. Neo-classical
approach yang mana topik utama pembahasannya adalah struktur industri,
penggunaan faktor produksi, tipe dan level proteksi, kebijakan industrial publik,
keuangan, transfer teknologi, distribusi pendapatan, kebijakan perdagangan
serta MNC. 3. Marxism dimana mengutamakan antagonisme kelas proletar versus
kapitalis, dan menolak secara jelas hubungan negara yang merugikan kelas
pekerja. And 4. Dependency yang berpandangan ketergantungan negara dunia ketiga
terhadap negara maju.
Dari : Bayi
berlari
Mahasiswa Hubungan Internasional
desain word nya kurang interested
ReplyDeleteThanksha..
ReplyDeleteBisa dijadikan referensi