Saturday, June 22, 2013

INDUSTRIALISASI DAN PEMBANGUNAN



INDUSTRIALISASI




“Gagal merencanakan artinya merencanakan kegagalan”

Hubungan antara industrialisasi dan pembangunan sangatlah erat kaitannya terutama bagi negara dunia ketiga yang sebagian besar berkomitmen terhadapnya. Sebab salah satu alasannya adalah pandangan mereka mengenai sejahteranya ekonomi negara-negara maju diawali dengan proses transisi demikian. Dalih lainnya ialah karena produk-produk berbasis agrikultural yang mereka kembangkan secara intensif tidak lagi tinggi profitabilitasnya, melainkan semakin tereduksi sebab berbagai faktor, gaya hidup terutama. Dimana barang-barang manufaktur seperti handphone, mobil, Tv, kamera yang memiliki value added lebih tinggi telah secara tidak langsung merebut pasar mereka. Mekanisme manufaktur akan secara tidak langsung menambah nilai tambah barang pertanian, membuka lapangan kerja baru bagi sektor rural, dan meningkatkan produktifitas.
Populasi yang tumbuh begitu cepat menyebabkan generasi pengangguran membutuhkan fasilitas kerja baru dan kesempatan ini pun bisa diatasi melalui industrialisasi. Pengembangan manufaktur juga akan mereduksi tanah yang begitu luas dibutuhkan jika menggunakan sistem tradisional. Apalagi bagi negara mini seperti Hongkong atau Singapura industrialisasi merupakan jalan fundamental pembangunan ekonomi dalam arti tidak ada alternatif lain. Selain itu alternatif ini akan menyebabkan adanya interdependensi lintas sektor yang secara langsung meningkatkan integritas nasional. Misalnya sektor pertanian dan peternakan menjual bahan dasar (raw) kulit kepada manufaktur kecil yang mengubahnya menjadi barang setengah jadi, barang ini lalu dijual ke manufaktur yang lebih besar (perusahaan dompet, sepatu atau tas), lantas manufaktur besar membayar listrik, jasa sosial, layanan ekpedisi transportasi, sewa, dan lain-lain sehingga membuat distribusi panjang melingkar.
Justifikasi awal bahwa industrialisasi itu penting biasanya pemahaman kemandirian untuk membuat sendiri barang dan jasa yang sebelumnya diimpor sehingga membengkakkan neraca pembayaran negara, untuk mengamankan sistem moneter, foreign exchange, dan menghilangkan ketergantungan teknologi pada negara dunia pertama yang seringkali menghadirkan debt relationships. Dimana teknologi adalah juga basis utama dalam pijakan awal infrastuktur yang harus disediakan bagi rencana besar tersebut didalam implementasinya. Dalam kenyataanya negara-negara maju yang tumbuh dengan industrialisasinya bukanlah sebab faktor kebetulan semata. Alias prinsip ini memang telah direncanakan sejak awal pembangunan kesejahteraan ekonomi bangsanya. Indutrialisasi mengacu pada peningkatan pendapatan pada sektor manufaktur dari aktifitas ekonomi makro. Pertumbuhan industri tidak cukup digunakan sebagai parameter industrialisasi, sektor lain secara bersamaan pun dapat tumbuh pada tingkat yang sama. Namun menjaga sektor manufaktur adalah lebih penting untuk menjaga frekuensi perkembangan tetap stabil.
Klasifikasi Standar Industri Internasional pada kegiatan ekonomi secara umum dibagi menjadi berikut : 1. Pertanian, Perikanan, dan kehutanan, 2.  Pertambangan dan Penggalian, 3. Manufactures, 4. Utilities, 5. Konstruksi, 6. Wholesale, retail, Restautant and Hotel, 7. Transportasi dan komunikasi, 8. Keuangan, Asuransi dan Real Estate, 9. Comunity and Personal service dan 10. Aktivitas lain (Underground economy). Industrialisasi bukan hanya komitmen pada pengembangan paling potensial klasifikasi diatas tapi juga secara luas pengembagan transformasi sosial mencakup ekonomi, politik, pendidikan serta kebudayaan. Industrialisation berimplikasi besar pada spesialisasi ekonomi pada produksi di pasar domestik maupun internasional, meningkatkan total output  secara signifikan bagi produk manufaktur serta penyerapan sumberdaya.
Berbagai pengaruh ketergantungan dari negara dunia ketiga adalah karena minimnya kapabiliti sehingga tidak ready to compete dengan developed country. Pertama pada masalah teknologi, yang ketika negara baru mengimpor terlau banyak (over) maka akan menurunkan stabilitas ketenagakerjaan. Sebab dengan lebih efektifnya mesin, perusahaan tidak akan membutuhkan banyak pekerja, lapangan kerja terminimalisir. Pasar, dimana saat negara berkembang mengekspor produk pertanian dan manufakturnya ke negara maju secara berkala akan menutup kesempatan impor mereka sebab masalah pengangguran dan tuntutan politik serta prusahaan domestik. Ketiga, apapun alasannya, sekaya apapun sumberdaya alam negara miskin tetap akan membutuhkan investasi asing sebagai motor bagi pembangunan infrasturktur produksi. Selanjutnya, SDM yang rendah memaksa mereka mengemis bantuan manusia ahli negara dunia pertama guna memanajemen sistem ekonominya.
Hal ini tentu membutuhkan pendidikan yang berkelanjutan dan penularan keahlian secasa intensif. Biasanya pengaturan terhadap sendi utama negara sampai mempengaruhi banyak kebijakan yang mengubah pranata sosial demi keuntungan negara donor meskipun baginya hal itu tidaklah penting. Dan yang terakhir, dependensi terhadap bantuan pembangunan militer. Pengaturan keamanan adalah prinsip fundamental sebuah negara bagi yuridiksi kedaulatannya. Namun, peralatan militer yang vital bagi berjalanya sistem tersebut wajib di impor dari negara maju sebab tidak mampu membuat sendiri. Dan demi menghilangkan ketakutan akan ancaman dari masyarakat internasional mereka menjalin aliansi dengan kekuatan militer regional maupun internasional sehingga harus tunduk pada otoritas mereka dalam traktat hierarkis. Hal ini biasanya mempengaruhi kebijakan luar negeri mereka dalam berhubungan agar tidak menimbulkan ketegangan yang seringkali merugikan disegi ekonomi. Isu yang sedang booming kaitannya dengan industrialisasi diabad modern ini adalah degradasi lingkungan yang coba diatasi oleh entitas negara didunia.
Kerusakan lingkungan secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi industrialisasi. Banyak hambatan ekspor kenegara maju dengan alasan produk negara berkembang tidak layak pakai melalui dalih quality standard, selain tarrifs (enty barriers). Proteksi ini berpengaruh pada ketimpangan neraca pembayaran akibat turunnya aktivitas perdagangan juga secara tidak langsung mengurangi kuota impor, mempermahal harga saing dan kesulitan lisensi. MNC sebagai agen yang dianggap membantu justru mengeksploitasi dan mengurangi daya saing manufaktur lokal, sampai pertumbuhan kembali bergantung pada produk pertanian. Secara ekstrem juga menekan pembuat kebijakan melalui lobi dan atau dorongan negara asalnya. Harga komoditas yang rendah, serta utang yang tak kunjung lunas memperkesil pendapatan negara miskin, bahkan banya dari mereka tak mampu membayar khususnya negara kawasan afrika.
             Empat perpektif yang digunakan banyak ahli dalam memandang fenomena kesuksesan industrialisasi adalah : 1. Industrial Geography yang melihat dari sisi seberapa tepat penempatan daerah manufaktur, perilaku manusia, penggunaan model yang tepat untuk semaksimal mungkin mereduksi biaya dan memaksimalkan revenue dengan pendekatan wilayah. 2. Neo-classical approach yang mana topik utama pembahasannya adalah struktur industri, penggunaan faktor produksi, tipe dan level proteksi, kebijakan industrial publik, keuangan, transfer teknologi, distribusi pendapatan, kebijakan perdagangan serta MNC. 3. Marxism dimana mengutamakan antagonisme kelas proletar versus kapitalis, dan menolak secara jelas hubungan negara yang merugikan kelas pekerja. And 4. Dependency yang berpandangan ketergantungan negara dunia ketiga terhadap negara maju.


Dari : Bayi berlari
            Mahasiswa Hubungan Internasional

2 comments:

Please comment by your kindness....thanks for your visit... : )