Sunday, June 16, 2013

Surat Dari Burma



Surat Dari Burma



“ keadilan adalah milik mereka yang berjiwa di kolong langit”
“ perjuangan keadilan adalah kewajiban bagi setiap yang berfikir”

        
Apalagi, kalau tidak politik, ekonomi, ya cinta, tiga hal yang seringkali menyulut konflik dunia yang semasa perjalanan panjangnya banyak dilalui dengan perang. Kata orang kekuasaan itu gula, sehingga tentu banyak semut disekitarnya. Sedangkan didunia ini masih banyak orang tahu tapi tak banyak orang sadar. Itu segores pandangan yang terlintas saat menyimak film The Lady yang mengisahkan tentang perjalanan Aung San Suu Kyi yang memperjuangkan kebebasan rakyat Burma dari kesewenang-wenangan penguasanya yang lalim. Dalam film ini bisa kita lihat bahwa dunia ini selalu berkutat dengan dua hal yang saling bertentangan. Antara baik dan buruk, yang memaksa kita memilih antara keduanya, tidak memilih berarti sudah memilih. Wajibnya memang memilih yang terbaik diantara yang terbaik, namun apalah daya jika lupa menghinggapi para penguasa. Junta militer yang sangat kokoh memperjuangkan eksistensinya namun tidak berusaha memberikan jaminan kesejahteraan tentu membentuk kesan yang buruk bagi para penontonya.

Namun, bagaimanapun sistem militer serta ideologi militer dalam film juga tidak sepenuhnya bisa disalahkan. Sebab, ibarat pisau yang tajam tetap manusianyalah yang menentukan digunakan untuk memasak atau merampok. Ideologi yang akhirnya menurunkan sikap dan cara untuk meraih tujuan adalah bentuk proses apa yang Burma inginkan untuk mendapat kesuksesan. Input, proses, lalu output, jika kesejahteraan itu adalah yang diinginkan maka proses yang rakyat Burma dan Aung san suu kyi inginkan adalah dengan merubah bentuk serta sistem pemerintahan dari otoriter ke demokrasi. Ini dilakukan karena manusianya saja yang tidak mampu mengunakan alat dengan baik. Bak mengganti pisau tadi dengan silet pemes, sekedar mengganti alat karena mungkin tidak biasa menggunakan ideologi militer sehingga gagap dan peguasanya lalim atau alatnya kurang canggih. Apapun sistem yang digunakan, asal normatif, yang penting sampai tujuan. Hendaknya sajalah kita memilih yang paling unggul dengan indikator aplikatifitas, efektifitas, dan keefisienan.
Tidaklah dunia ini bisa dijelaskan secara detail dalam satu kertas memang. Tapi secara positif dari film ini kita bisa lebih belajar bahwa sumberdaya manusia yang bersih, jujur, serta memihak kepada rakyat adalah lebih penting daripada menggonta-ganti sistem dan alat yang digunakan untuk mencapai sebuah tujuan dari negara untuk makmur. Demikian, tidak mengherankan selama sebuah bangsa belum memiliki kesadaran penuh alias setengah hati memperjuangkan, sulit untuk menciptakan manfaat lebih dari keberadaannya. Sebab saya kira walaupun menggunakan junta militer sebagai eksekutornya, tidak berarti sebuah negara tidak bisa sejahtera. Karena jika yang menduduki jabatan itu adalah orang yang konsisten kepada kebenaran bagi rakyatnya, niscaya merdekalah jiwa dan raga bangsa itu. Hanya saja mungkin Burma perlu sedikit memperkecil regional kewenangan para junta tersebut agar tidak ada peluang untuk mankir dari kewajiban.
Pemimpin adalah ibarat sopir bagi bus yang kita tunggagi. Kemana arahnya bus, ya tergantung pemimpin. Sampai ketujuan atau masuk kejurang ya tergantung pemimpin. Kalau sopirnya mengantuk, tentu kita dalam keadaan bahaya, dan mestinya harus segera kita gantikan. Sebab peminpin juga manusia, tempatnya salah dan lupa, dan bisa lelah juga. Barulah boleh bertugas lagi jika memang sudah sehat. Jika ingin menciptakan komunitas yang makmur, maka tidak ada kata lain selain mencari pemimpin yang brilian mengarahkan. Tidak ada yang baik kecuali bersumber dari yang baik, tidaklah air suci itu ada kecuali dari sumber yang suci.

         Ibarat bermain catur Burma telah menentukan pion mana yang lebih dulu di majukan. Karena dari sinilah memang langkah-langkah membangun pertahanan serta proses pencapaian kemenangan dimulai. Namun kita masih belum tahu apakah proses akan terlewati dan sampai tujuan ataukah kandas ditengah jalan. Sebagai komunitas komentator yang menoton lalu cuap-cuap, kita hanya perlu menunggu untuk tahu bagaimana ending-nya. Berakhir bahagia secara cepat atau sedih berkepanjangan, atau mungkin bisa juga ikut melibatkan diri dengan memperjuangkan ke panggung dunia lewat media, Amnesty Internasional, PBB lagi, ya sekedar menambah angka supporter saja. Yang jelas Aung san suu kyi telah secara tersirat memberi contoh kepada kita. Bagaimana untuk menjadi salah satu diantara yang bisa, bukan hanya menjadi diantara yang tahu. Dan menjadi pemain utama dalam panggung kehidupan ini. Politik yang sering kali diacuhkan, hanya menjawab, walaupun aku diacuhkan aku tetap melayanimu. Aung san suu kyi pantas menjadi pemimpin rakyat Burma. Tak terlepas dari perektif lain, bahwa saya tetap menolak keras. Diamnya dia sebagai pemersatu bangsanya terhadap kasus yang mendzalimi umat islam rohingnya. Sebab, keadilan harus benar-benar ditegakkan. Walaupun besok kiamat, hari ini hukum masih wajib ditegakkan.


Dari : Bayi berlari
            Mahasiswa Hubungan Internasional
 

No comments:

Post a Comment

Please comment by your kindness....thanks for your visit... : )