INOVASI
“ Belajar adalah kewajiban selama hati masih beriman”
Waktu terus berlalu, jam terus-menerus
berdetik menandakan umur yang semakin lama semakin berkurang. Abas yang dekil,
miskin dari desa masih terus menapak jejak hidup di Jakarta. Remaja yatim piatu
jebolan panti asuhan kampung, yang tak pernah merasakan belaian seorang ibu dan
gendongan seorang ayah, harus merantau menyambung nafas. Dia sadar hidup ini
singkat, dan ibarat satu garis lurus dikertas dengan manik-manik sentimeter
umur dari titik nol lahirnya hingga matinya. Salah satu yang sangat sering
diucapkanya didalam qolbu, “aku pasti mati, aku pasti mati, sungguh tiada daya
yang mampu melindungiku kecuali Alloh”. Satu-satunya hal yang benar-benar pasti
akan terjadi, waktu mahal yang tak dapat kembali, penyesalan yang selalu ada
dibelakang. Hidupnya dirasa semakin sulit, sengsara menerpa, namun dia tetap
sabar, karna dia bukan seorang pengeluh. Semangatnya tetap berkobar didadanya,
masih berusaha membangun masa depan melalui masa depan, bukan masa lalu.
Pekerjaannya sebagai tukang sampah, tidak memadamkan niatnya untuk tetap
kulyah, mencari ilmu setinggi mungkin, guna bermanfaat bagi agama, bangsa dan
negara.
Dia adalah pencinta ilmu, penghormat
guru, dan seorang muslim yang ikhlas lagi ihsan. Baginya guru adalah apapun dan
siapapun yang telah memberinya ilmu, walaupun satu huruf. Pernah sekali dia
dipanggil gurunya dan diberi hadiah besar dalam hidupnya semasa kecil. “Bas,
kemarilah, pinta pak kasno dengan lirih santun. Ya pak, ada yang bisa saya
bantu, jawab Abas. “Kamu mau saya beri kekuatan”, sambung gurunya. “Kekuatan
apa pak”, sambut Abas dengan wajah penasaran. Dijelaskanlah dengan nada tinggi
besar penuh semangat,“Kekuatan besar!, kekuatan yang hanya bisa dipegang oleh
orang-orang besar!, yang tidak pernah mengeluh!, yang mau belajar!, tidak
sombong!, yang selalu semangat untuk mencari ilmu peninggi drajat!”. “Kekuatan super
macam apa itu pak”, wajahnya makin mengkerut. “Ambilah pena dan kertas kosong”,
perintah pak kasno. Tak lama kemudian sigaplah dia dengan memberikan pena dan
kertas. Dengan sangat tenang pak kasno menggoreskan penanya dan menggambar
sebuah tanda tanya sangat besar memenuhi datar kertas. Berkatalah beliau,
“Inilah kekuatan itu nak, yang harus kau pegang selama-lamanya”. Sambil
tersenyum heran Abas bertanya lagi, “maksudnya apa pak, saya tidak mengerti”.
Mulailah sang guru menjelaskan
panjang lebar, “Apa, siapa, kapan, dimana, dan kenapa, terapkanlah itu pada
setiap apa yang kau dengar !, pada setiap apa yang kau lihat, tanyakan setiap
hal yang kamu tidak tau apa itu, berfikirlah tentang dunia ini meskipun dia
adalah fana”. “Kau harus fahami hubungan kausalitas dari setiap hal, mengapa
kau lakukan, dan untuk apa kau lakukan, mengapa terjadi, dan untuk apa terjadi,
karena bertindak tanpa berfikir itu kehancuran, dan berfikir tanpa pernah
bertindak itu omong kosong”. “Bacalah buku, bacalah juga dunia ini, tetaplah
merasa bodoh dan miskin, sebab dunia ini hanya milik Allooh, teruslah belajar
tanpa pernah berhenti, tetaplah rendah hati dimanapun engkau berada, hakekatnya
kita hanyalah manusia lemah”. “Contoh, bumi yang kita injak sekarang ini,
apakah sebenarnya dia, siapa yang menciptakannya, kapan dia dicipta, kapan akan
hancur, dimana tempat kita bertumpu, kenapa ada bumi, siapa khalifahnya?”.
“Manusia pak”, sela Abas. “Lantas sambunglah setiap pertanyaanmu” jelas pak
Kasno lagi, “Apakah manusia itu semuanya pandai berfikir, mengapa ada yang
bodoh, mengapa mencintai dunia, mengapa mau beribadah, tanyakan!, tanyakan
semuanya yang ada didunia ini untuk mencari sebuah hakekat dari hidup, agar
tiada penyesalan bagi setiap hela nafasmu kelak, sebab ilmu itu tidak ada
batasnya, sambunglah dalam bertanya, dia tidak akan habis, kita tidaklah diberi
kecuali sedikit”.
Sejak saat itu abas mempunyai
kebiasaan yang menurut sebagian orang dipandang buruk. Setiap dikelas dia hanya
selalu duduk dipojok belakang, dan mengunci mulut rapat-rapat. Tak lebih hanya
sekedar berpirkir, berpikir, dan berpikir diam-diam tentang dunia ini. Dia
mulai sedikit acuh dengan sekolah, sebab orang telah lupa arti sekolah, sekolah
tidaklah wajib, tapi mencari ilmulah yang wajib. Dia memaksakan pada benaknya,
mengahapus slogan “Ayo Sekolah” dengan “Ayo belajar”. Dia memperhatikan setiap
hal yang ada di dunia ini, termasuk garis-garis hidup manusia disekelilingnya.
Ada yang lahir, sekolah SD, SMP, SMA-nya berprestasi, lulus kulyah hingga
doktor di universitas ternama, kaya,
dermawan, membangun yayasan amal panti asuhan, sekolah, mampu membahagiakan
orang tua, dan mati bahagia khusnul khotimah. Ada yang lahir, nakal, sekolah
tak pernah masuk, bodoh, kualat, lalu sadar, mulai belajar, pintar berubah
baik, lalai lagi, jadi pekerja seks, foya-foya hidupnya, lalu mati di
lokalisasi, sungguh naas. Maka dari itu, bertemulah dia dengan hakekat hidup,
bahwa hidup ini adalah pilihan, tidak memilih berarti sudah memilih. Memilih
jadi yang baik, syukur, memilih jadi yang buruk, ya terserah kalau memang ingin
sengsara terus. Dalam hidup ini ada berbagai tipe manusia.
Dunia ini ibarat panggung sandiwara. Dimana
ada pemain-pemain yang berperan di dalamnya. Empat kategori utamanya adalah :
Pemain, Komentator, Penonton, dan Pendengar. Komentator adalah orang yang hanya
bisa ngomong dan berkomentar tentang apa yang dilihatnya. Ibarat dalam
pertandingan sepak bola mungkin dia hanya berteriak-teriak menyuruh atau
membodoh-bodohkan pemain, sok berbicara tentang kesalahan dan kebaikanya,
peluang, dan seharusnya bagaimana, tapi tidak pernah berbuat. Penonton adalah
orang yang hanya melongo melihat apa yang terjadi, yang diperselisihkan, yang
dianggap baik, dan tidak pernah berkomentar apapun karena berpenyakit demam
panggung atau tidak sampai ilmunya. Pendengar, dia adalah orang yang tidak
melihat bagaimana pertandingan sebenarnya itu berlangsung. Tapi, hanya mendapat
cerita-cerita dari yang menonton atau yang bermain. Ini adalah kategori paling
tidak aktif disini, sehingga kurang terlalu brani untuk berkomentar. Dan
Pemain, adalah seorang pelaku yang menciptakan suasana pertandingan, yang
mempunyai kesempatan untuk merubahnya menjadi pertandingan yang menyedihkan,
menggembirakan, atau sekedar tenang dan biasa-biasa saja. Yang mempunyai
kredibilitas dan kapasitas tinggi hingga mampu mendominasi semua peran dalam
pertandingan. Ibarat semuanya naik mobil, dia bisa jadi sopirnya. Yang membawa
mobil sampai ke tujuan atau masuk ke jurang. Karena pemain adalah juga
pemimpin.
Abas, hidupnya sarat dengan
kemiskinan namun, hatinya selalu sarat dengan iman islam, dan ilmu pengetahuan.
Tidak pernah jauh dari buku dan keseringan bertanya tentang hal yang baru.
Motonya “membaca sampek mati”. Dia tau bahwa sebenarnya, setiap apa yang ada
disekelilingnya adalah sebuah kesempatan. Buku, adalah kesempatan untuk
mengarungi ilmu sebanyak mungkin, tempat tidur, adalah kesempatan untuk
istirahat nyenyak, tapi juga kesempatan untuk bermalas-malas. Uang didekatnya
adalah kesempatan untuk bersedekah dan kesempatan untuk berfoya-foya. Setiap
apa yang dia lihat, dia pandang, dia rasakan, adalah kesempatan. Kesedihan
adalah kesempatan untuk membuat sedih orang disekitarnya. Tergantung bagaimana
menggunakan kesempatan itu. Dan keberhasilan, sukses, adalah kesempatan untuk
membangun atmosfer semangat berkobar-kobar yang tiada matinya. Ibarat pepatah
asing, “Action speak louder than word”. Progam yang dia jalankan sejak semester
satu hingga empat telah berhasil diselesaikannya. Yaitu mambaca seribu buku,
tanpa membelinya, maklum, orang miskin. Dia selalu datang ke perpustakaan
kampusnya, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, atau ke Gramedia Plaza Bintaro yang
diperbolehkan gratis sekedar baca buku. Sehingga, dia harus menyediakan uang
khusus untuk naik angkot PP setiap bulan. Dari hal itu, beberapa buku
diantaranya adalah buku tentang ekonomi, manajemen, analisis keuangan dan
bisnis serta business plan, berbaur berhasil
terbaca.
Mulailah pikirannya tentang bisnis
berbisnis berkembang, pengamatanya mengenai dunia bisnis meluas. Dia katakan
pada hatinya dengan penuh semangat kemantaban mengubah nasib “Aku harus
berbisnis”. Berangkat dari pemahaman sederhana di benaknya, bahwa bisnis itu,
tercipta dari dua komponen. Satu invention
dan dua entrepreneurship, jadilah
bisnis. Segala yang ada disekitarnya, mobil, program TV, ponsel, celana, bus,
internet, salon, setrika, lampu, lantai, dan teman-temanya adalah sebuah invention. Sebuah penemuan yang nantinya
pada bisnis akan menjadi fungsi produk, baik barang ataupun jasa. Sedangkan entrepreneurship adalah kemauan, dan
kemampuan untuk memanajemen bagaimana sistem operasional pembuatan produk
hingga pendistribusian dapat berlangsung dengan sempurna. Dan bisnis yang baik
adalah bisnis yang pada aspek invention-nya
maupun entrepreneurship-nya terdapat
inovasi-inovasi. Secara lebih sederhana bisa kita katakan inovasi pada produk
dan pada sistem. Indikator parameter yang digunakan cukup sederhana saja. Yang
pertama aplikatifitas, evektifitas, dan efisiensi. Contoh inovasi pada produk
adalah kursi lipat. Berawal dari mengamati kursi yang sebelumnya memakan banyak
tempat, ini menandakan ada aplikatifitas, ada efektifitas untuk duduk, tapi
efisiensi tempat masih kurang. Sehingga dibubuhilah dengan inovasi, bagaimana
agar kursi yang asalnya makan tempat menjadi tidak makan tempat. Yaitu, dengan
dirancang untuk bisa dilipat dan dipindahkan dengan mudah. Ini hanya contoh
pada aspek evisiensi saja, sehingga nantinya gedung yang penuh dengan kursi
baku bisa beralih fungsi menjadi lapangan futsal karena kursinya dilipat.
Selanjutnya contoh inovasi pada sistem, adalah menjual barang secara lebih
murah dengan kualitas sama dengan kompetitor sebagai daya saing saat berbisnis,
memberikan hadiah gratis setiap sepuluh kali pembelian berkupon, atau melayani
setiap konsumen dengan asas human touch,
dengan keramahan, senyum, dan menyamankan para tenaga kerja dengan THR (bonus).
Kesimpulannya,
bisnis yang begitu kuat, adalah bisnis yang pada aspek produk maupun sistemnya
senantiasa diinovasi secara terus menerus guna menciptakan daya saing dan
kemampuan mengahadapi dinamika ekonomi global. Mulailah abas berfikir, mencari
sebuah gagasan yang nantinya diubah menjadi ide bisnis sempurna dan dapat
diimplementasikan. Siang, malam, pergi ngampus,
pulang ngampus, berkutu otaknya
dengan lampu-lampu neon bak lembaran kertas komik. Sampai pada malam itu,
menyalalah salah satu neon diantara neon-neon yang redup-redap dan mati sentak
begitu terang. Jam satu malam yang menilang dia hingga tidak bisa tidur.
Memaksa terus berfikir agar bagaimana caranya bisa berbisnis tanpa sepeser
dirham, tanpa modal finansial. Yang dia punya hanyalah skill, waktu, tenaga, dan otaknya yang tak begitu cerdas. Akhirnya,
bertemulah dia dengan hidayah Alloh S.W.T. yang menuntun dia pada suatu ide
yang sederhana, namun tidak membutuhkan banyak dana untuk melakukan start-up. Tempe, sebuah makanan warisan
dari nenek moyang, yang hari ini telah mendunia, hingga di Jerman hargannya
mencapai 28.000 per porsi piring. Banyaklah orang tau bahwa yang namanya tempe
mentah, rasanya ya sepeti layaknya tempe, dimana-mana sama, tinggal bagaimana
mengolah, dan apa bumbunya.
Dia membaca di internet, mencari
informasi tentang bagaimana membuat tempe. Setelah mengetahui dia berusaha
memberikan sebuah inovasi sederhana padannya. Yaitu bagaimana agar tempe yang
rasa original-nya sebelum dibuat dan
dibumbui sama, tawar. Agar menjadi tempe yang dalam membuatnya hanya tinggal
goreng saja tanpa harus memberi bumbu lagi. Sebab, dari tempe tersebut terdapat
bumbu-bumbu yang telah tercampur dengan berbagai rasa. Ada rasa pedas manis,
tempe rasa keju bakar, tempe rasa gurih asli, dan tempe rasa daging bakar. Berawal
dari ide cemerlang ini dia mulai melakukan riset, berusaha mengimplementasikan
apa yang telah ia rancang. Namun, kendala utama yang dia hadapi tentu adalah
modal. Sedangkan untuk mencari investor, dia harus membuat proposal yang ilmiah
serta akurat untuk diajukan pada para pemilik modal. Tidak berhenti sampai
disini, dia gadaikan beberapa buku-buku referensi kulyahnya yang begitu
berarti, dengan sangat berat hati. Secara teori, prosentase sukses itu 100%, 1
persen teori ideal dan 99% implementasi, sehingga jika abas hanya mempunyai ide
saja tanpa peenah melakukan tindakan nyata, ide itu omong kosong. Punya ide,
mampu riset dan berhasil, tapi tidak mendapat investor, mungkin hanya mencukupi
30% volume, tidak 100%, artinya tidak sukses juga. Kesimpulannya sukses
haruslah 100%, bukan setengah-setengah dan sukses, adalah sebuah perjalanan.
Dari tindakan spontannya itu, sebatangkara
yatim ini berhasil menggenggam uang 300 ribu rupiah. Diawali dengan bismillaah,
dengan kemantaban hati, dia mulai kalkulasi, uangnya hanya cukup untuk
percobaan satu rasa saja, yaitu rasa pedas manis. Tak apalah, segera dia
beranjak kepasar ciputat, mencari barang-barang yang dibutuhkan. Mulai dari
kedelai, ragi tempe, plastik, gula merah, lombok, panci kompor dan perlengkapan
lain seefektif dan seefisien mungkin. Setelah siap, tanpa pikir panjang,
dimulailah pembuatan tempe siap goreng rasa pedas manis digubuknya yang dekat
dengan pembuanggan sampah. Kendati, identik dengan kotor, yatim piatu ini
penjaga kebersihan, kok. Jadi, jangan
takut tempe yang direkanya tidak steril.
Setelah terlampaui tiga hari masa,
kedelai yang semula direbus, diolah sedemikian rupa, diberi bumbu dalam
pembuatan versi mentahnya, tinggal menunggu ujian akhir, jadi tempe atau tidak.
Sore menjelang, abas dengan penuh semangat penasaran, mempercepat langkah
kakinya melewati 3 km jarak dari kampus ke teduhannya. Bertanya-tanya dalam
hatinya, bisakah ragi tempe tumbuh dengan medium kedelai yang dicampur dengan
gula merah, garam, bawang putih, bawang merah, dan berbagai bumbu lain?. Dengan
jantung berdegup kencang, takut uangnya ludes, sampailah ia didepan pintu
rumahnya, dibukalah kunci, bergegas menghampiri kamar yang berubah jadi dapurnya
yang sempit. Dan yang terjadi, wajahnya mulai aneh, terkerut-kerut
memperhatikan tempe-tempe buatannya, terdiam terpana. Splash!, “Alhamdulillaah,
terimakasih banyak yaa Allooh atas karuniaMu ini, Engkau berikan keberhasilan
pada percobaanku”, bisiknya dalam hati.
Riset telah berhasil, itu artinya
hipotesis telah menjadi kenyataan. Saatnya melangkah ke step selanjutnya, membuat proposal lantas mencari investor. Dalam
hal ini Abas menulisnya di kertas folio, kemudian direntalkan, sebab jangankan
komputer, untuk makan saja susah. Pendiriannya dalam hidup tetap terjaga oleh
Allah, sholatnya tak pernah putus. Otaknya yang selalu berfikir bagi
kesejahteraan alam, agaknya menuai setitik cahaya lebih terang lagi. Proposal
rencana bisnis yang dipegangnya hanya tinggal menuntun kepada tuannya. Pikirnya
dia butuh bantuan orang kaya untuk kaya, butuh bantuan orang kaya untuk
berteman dengan orang kaya. Mahasiswa miskin ini berinisiatif, meminta tolong
seorang dosen ekonomi yang kebetulan juga orang kaya, tentu sering berkumpul
dengan orang-orang kaya pula. Suatu hari sepulang kulyah, dia tunggulah dosen
itu, Pak Bari namanya.
Keluarlah dari lobi, bapak yang
dimaksud, dia kejar lalu spontan bersalaman. Abas menyapa, “Pak, saya Abas,
mahasiswa hubungan internasional kelas A semester empat, saya ingin minta
bantuan bapak”. “Bantuan apa ya?”, jawab Pak Bari. Abas mulai menjelaskan
panjang tak sedikit lebar hingga pak Bari mengajaknya duduk dikursi taman.
Selang sekitar satu jam, muka dosennya mulai sedikit tertarik oleh planning muridnya tersebut, melihat
inovasi-inovasi yang dibubuhkan pada produk maupun sistem di rencana bisnisnya.
Dengan sangat tegas Pak Bari berkata, “Baik, saya akan bantu carikan kamu
investor, tenang, jika hanya seratus juta, teman-teman saya pasti mau, produk
kamu bagus kok. Besok kamu kekantor saya jam tiga sore, ruko Indah blok A-9”.
Insyaalloh pak, saya datang tepat waktu. Setelah perbincangan usai, dengan
tenang Abas pulang, dia sujud syukur kepada Alloh setelah sholat di sepertiga
malam hari itu. Tibalah sorenya, berangkat abas ke kantor pak Bari, dan bertemu,
diperkenalkan kepada teman dosennya itu, Pak Ardi panggilannya. Singkat
perbincangan, pak Ardi sangat tertarik dengan business plan Abas, melihat pasarnya yang minim kompetitor sebab
daya saingnya yang tinggi. Kesepakatan diatas MoU pun ditanda tangani waktu itu
juga, tanpa berbelit-belit pikir panjang. Dengan ketentuan bagi laba pak ardi
60 persen, sedangkan Abas sebagai pengusaha 40 persen. Tapi karena penghargaan
Abas terhadap penuntun jalan kesepakatan ini, abas memberikan 10 persen bagi
labanya pada pak Bari. Sungguh perilaku yang begitu terpuji dari si miskin ini.
Tiga mingu terhitung dari hari penandatanganan
Abas telah siap untuk melaksanakan start-up
perusahaan. Respon masyarakat terhadap New Tempe, merek produk tempenya itu,
sangat bagus. Dalam tujuh bulan saja, modal pokok seratus juta Pak Ardi telah
kembali. Dalam setahun Abas telah mampu membeli rumah dari kantongnya sendiri
walaupun sederhana. Hidup dengan berkecukupan, dan mampu menyisihkan sebagian
hartanya untuk zakat, infaq, dan sodakoh, terutama bagi para anak yatim yang
serasa hati denganya. Sebatangkara miskin ini tidak sedikitpun punya rasa
sombong dihatinya. Teringat pesan Pak Kasno juga, “Naak, tetaplah rendah hati
dimanapun engkau berada, kapanpun engkau bernafas”. Kulyahnya pun lancar,
hingga akhirnya dia lulus dengan predikat cumlaude
bernilai IPK 3,7 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Yatim piatu yang diwisuda
tanpa seorang ayah atau pun bunda. Sang sederhana ini lantas menikah dengan
bidadari solehah yang diturunkan Alloh kedunia. Wajahnya mirip public figure Dian Sastrowardoyo, namun,
jiwa dan hatinya seperti Aisyah istri Rasululloh S.A.W yang mulia. Dia hidup
bahagia dengan iman islam, dan ilmunya yang tinggi, yang tidak pernah ia
banggakan sedikitpun, karena perasaannya yang selalu merasa masih bodoh dan
miskin. Baru saja menikah, lalu mempunyai seorang anak laki-laki bernama umar.
Lima belas tahun sudah, remaja
miskin anak panti ini merantau di ibu kota. Perusahaan telah besar dan menjadi
badan hukum berbentuk PT. dengan dia sebagai direktur utamanya sedangkan pak
Bari presdir. Suatu malam, teringat dia akan hidupnya yang sukar, dia hanya
duduk terdiam di teras rumahnya semalaman sambil anak istrinya tidur lelap.
Mengingat-ingat garis hidupnya, apa yang telah dilakukannya selama ini. Agak
tersentak hatinya, tiba-tiba dia ingat pesan bu Munawaroh, janda tua sekaligus
orang yang telah mengurusnya sejak kecil dipanti asuhan. “Kesalahan kecil orang
besar tidaklah terlihat, yang terlihat hanyalah jasanya, tapi jasa besar orang
kecil tidaklah terlihat, tapi kesalahan kecilnya terlihat”. Suasana-suasana
bersama saudara panti sejak kecil, membuatnya menangis haru, ketika merasakan
makanan sederhana dengan berebut, tidur berlima seranjang. Bercanda ria
menenangkan jiwa dari kesebatangkaraan, dan kesempatan-kesempatan untuk belajar
tegar. Abas melankolis yang hidupnya sarat pelajaran berharga, masih diliputi
cita-cita untuk menjadi orang yang memikirkan masa depan terbaik.
Pulang, pulang, pulang dengan
membawa oleh-oleh ilmu pengetahuan, ke panti asuhan, tempatnya berhutang,
banyak pelajaran. Sampailah keluargannya kepada tanah lalu tempat biji dirinya
tertapak tanam. Bu Munawaroh, bangga melihat seorang yang semangatnya tidak
pernah luntur ini. Tapi tetap, hidupnya belum usai sampai disini, perjuangan
masih akan berlanjut. Hidup adalah perjuangan, setiap perjuangan membutuhkan
pengorbanan, tak mau berkorban jangan berjuang, tak mau berjuang jangan hidup.
Seberapa banyak kau memanen, selelah itulah kau menanam. Maka tanamlah sebanyak
mungkin pohon kebaikan, agar sebanyak mungkin kau dapat petik buah kebaikannya
kelak. Yang dibenaknya saat itu.
Dari : Bayi berlari
Mahasiswa Hubungan Internasional


No comments:
Post a Comment
Please comment by your kindness....thanks for your visit... : )