Saturday, June 15, 2013

SEGORES TINTA


INOVASI





“ Belajar adalah kewajiban selama hati masih beriman”
 

Waktu terus berlalu, jam terus-menerus berdetik menandakan umur yang semakin lama semakin berkurang. Abas yang dekil, miskin dari desa masih terus menapak jejak hidup di Jakarta. Remaja yatim piatu jebolan panti asuhan kampung, yang tak pernah merasakan belaian seorang ibu dan gendongan seorang ayah, harus merantau menyambung nafas. Dia sadar hidup ini singkat, dan ibarat satu garis lurus dikertas dengan manik-manik sentimeter umur dari titik nol lahirnya hingga matinya. Salah satu yang sangat sering diucapkanya didalam qolbu, “aku pasti mati, aku pasti mati, sungguh tiada daya yang mampu melindungiku kecuali Alloh”. Satu-satunya hal yang benar-benar pasti akan terjadi, waktu mahal yang tak dapat kembali, penyesalan yang selalu ada dibelakang. Hidupnya dirasa semakin sulit, sengsara menerpa, namun dia tetap sabar, karna dia bukan seorang pengeluh. Semangatnya tetap berkobar didadanya, masih berusaha membangun masa depan melalui masa depan, bukan masa lalu. Pekerjaannya sebagai tukang sampah, tidak memadamkan niatnya untuk tetap kulyah, mencari ilmu setinggi mungkin, guna bermanfaat bagi agama, bangsa dan negara.
            Dia adalah pencinta ilmu, penghormat guru, dan seorang muslim yang ikhlas lagi ihsan. Baginya guru adalah apapun dan siapapun yang telah memberinya ilmu, walaupun satu huruf. Pernah sekali dia dipanggil gurunya dan diberi hadiah besar dalam hidupnya semasa kecil. “Bas, kemarilah, pinta pak kasno dengan lirih santun. Ya pak, ada yang bisa saya bantu, jawab Abas. “Kamu mau saya beri kekuatan”, sambung gurunya. “Kekuatan apa pak”, sambut Abas dengan wajah penasaran. Dijelaskanlah dengan nada tinggi besar penuh semangat,“Kekuatan besar!, kekuatan yang hanya bisa dipegang oleh orang-orang besar!, yang tidak pernah mengeluh!, yang mau belajar!, tidak sombong!, yang selalu semangat untuk mencari ilmu peninggi drajat!”. “Kekuatan super macam apa itu pak”, wajahnya makin mengkerut. “Ambilah pena dan kertas kosong”, perintah pak kasno. Tak lama kemudian sigaplah dia dengan memberikan pena dan kertas. Dengan sangat tenang pak kasno menggoreskan penanya dan menggambar sebuah tanda tanya sangat besar memenuhi datar kertas. Berkatalah beliau, “Inilah kekuatan itu nak, yang harus kau pegang selama-lamanya”. Sambil tersenyum heran Abas bertanya lagi, “maksudnya apa pak, saya tidak mengerti”.
            Mulailah sang guru menjelaskan panjang lebar, “Apa, siapa, kapan, dimana, dan kenapa, terapkanlah itu pada setiap apa yang kau dengar !, pada setiap apa yang kau lihat, tanyakan setiap hal yang kamu tidak tau apa itu, berfikirlah tentang dunia ini meskipun dia adalah fana”. “Kau harus fahami hubungan kausalitas dari setiap hal, mengapa kau lakukan, dan untuk apa kau lakukan, mengapa terjadi, dan untuk apa terjadi, karena bertindak tanpa berfikir itu kehancuran, dan berfikir tanpa pernah bertindak itu omong kosong”. “Bacalah buku, bacalah juga dunia ini, tetaplah merasa bodoh dan miskin, sebab dunia ini hanya milik Allooh, teruslah belajar tanpa pernah berhenti, tetaplah rendah hati dimanapun engkau berada, hakekatnya kita hanyalah manusia lemah”. “Contoh, bumi yang kita injak sekarang ini, apakah sebenarnya dia, siapa yang menciptakannya, kapan dia dicipta, kapan akan hancur, dimana tempat kita bertumpu, kenapa ada bumi, siapa khalifahnya?”. “Manusia pak”, sela Abas. “Lantas sambunglah setiap pertanyaanmu” jelas pak Kasno lagi, “Apakah manusia itu semuanya pandai berfikir, mengapa ada yang bodoh, mengapa mencintai dunia, mengapa mau beribadah, tanyakan!, tanyakan semuanya yang ada didunia ini untuk mencari sebuah hakekat dari hidup, agar tiada penyesalan bagi setiap hela nafasmu kelak, sebab ilmu itu tidak ada batasnya, sambunglah dalam bertanya, dia tidak akan habis, kita tidaklah diberi kecuali sedikit”.
            Sejak saat itu abas mempunyai kebiasaan yang menurut sebagian orang dipandang buruk. Setiap dikelas dia hanya selalu duduk dipojok belakang, dan mengunci mulut rapat-rapat. Tak lebih hanya sekedar berpirkir, berpikir, dan berpikir diam-diam tentang dunia ini. Dia mulai sedikit acuh dengan sekolah, sebab orang telah lupa arti sekolah, sekolah tidaklah wajib, tapi mencari ilmulah yang wajib. Dia memaksakan pada benaknya, mengahapus slogan “Ayo Sekolah” dengan “Ayo belajar”. Dia memperhatikan setiap hal yang ada di dunia ini, termasuk garis-garis hidup manusia disekelilingnya. Ada yang lahir, sekolah SD, SMP, SMA-nya berprestasi, lulus kulyah hingga doktor  di universitas ternama, kaya, dermawan, membangun yayasan amal panti asuhan, sekolah, mampu membahagiakan orang tua, dan mati bahagia khusnul khotimah. Ada yang lahir, nakal, sekolah tak pernah masuk, bodoh, kualat, lalu sadar, mulai belajar, pintar berubah baik, lalai lagi, jadi pekerja seks, foya-foya hidupnya, lalu mati di lokalisasi, sungguh naas. Maka dari itu, bertemulah dia dengan hakekat hidup, bahwa hidup ini adalah pilihan, tidak memilih berarti sudah memilih. Memilih jadi yang baik, syukur, memilih jadi yang buruk, ya terserah kalau memang ingin sengsara terus. Dalam hidup ini ada berbagai tipe manusia.
Dunia ini ibarat panggung sandiwara. Dimana ada pemain-pemain yang berperan di dalamnya. Empat kategori utamanya adalah : Pemain, Komentator, Penonton, dan Pendengar. Komentator adalah orang yang hanya bisa ngomong dan berkomentar tentang apa yang dilihatnya. Ibarat dalam pertandingan sepak bola mungkin dia hanya berteriak-teriak menyuruh atau membodoh-bodohkan pemain, sok berbicara tentang kesalahan dan kebaikanya, peluang, dan seharusnya bagaimana, tapi tidak pernah berbuat. Penonton adalah orang yang hanya melongo melihat apa yang terjadi, yang diperselisihkan, yang dianggap baik, dan tidak pernah berkomentar apapun karena berpenyakit demam panggung atau tidak sampai ilmunya. Pendengar, dia adalah orang yang tidak melihat bagaimana pertandingan sebenarnya itu berlangsung. Tapi, hanya mendapat cerita-cerita dari yang menonton atau yang bermain. Ini adalah kategori paling tidak aktif disini, sehingga kurang terlalu brani untuk berkomentar. Dan Pemain, adalah seorang pelaku yang menciptakan suasana pertandingan, yang mempunyai kesempatan untuk merubahnya menjadi pertandingan yang menyedihkan, menggembirakan, atau sekedar tenang dan biasa-biasa saja. Yang mempunyai kredibilitas dan kapasitas tinggi hingga mampu mendominasi semua peran dalam pertandingan. Ibarat semuanya naik mobil, dia bisa jadi sopirnya. Yang membawa mobil sampai ke tujuan atau masuk ke jurang. Karena pemain adalah juga pemimpin.
            Abas, hidupnya sarat dengan kemiskinan namun, hatinya selalu sarat dengan iman islam, dan ilmu pengetahuan. Tidak pernah jauh dari buku dan keseringan bertanya tentang hal yang baru. Motonya “membaca sampek mati”. Dia tau bahwa sebenarnya, setiap apa yang ada disekelilingnya adalah sebuah kesempatan. Buku, adalah kesempatan untuk mengarungi ilmu sebanyak mungkin, tempat tidur, adalah kesempatan untuk istirahat nyenyak, tapi juga kesempatan untuk bermalas-malas. Uang didekatnya adalah kesempatan untuk bersedekah dan kesempatan untuk berfoya-foya. Setiap apa yang dia lihat, dia pandang, dia rasakan, adalah kesempatan. Kesedihan adalah kesempatan untuk membuat sedih orang disekitarnya. Tergantung bagaimana menggunakan kesempatan itu. Dan keberhasilan, sukses, adalah kesempatan untuk membangun atmosfer semangat berkobar-kobar yang tiada matinya. Ibarat pepatah asing, “Action speak louder than word”. Progam yang dia jalankan sejak semester satu hingga empat telah berhasil diselesaikannya. Yaitu mambaca seribu buku, tanpa membelinya, maklum, orang miskin. Dia selalu datang ke perpustakaan kampusnya, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, atau ke Gramedia Plaza Bintaro yang diperbolehkan gratis sekedar baca buku. Sehingga, dia harus menyediakan uang khusus untuk naik angkot PP setiap bulan. Dari hal itu, beberapa buku diantaranya adalah buku tentang ekonomi, manajemen, analisis keuangan dan bisnis serta business plan, berbaur berhasil terbaca.
            Mulailah pikirannya tentang bisnis berbisnis berkembang, pengamatanya mengenai dunia bisnis meluas. Dia katakan pada hatinya dengan penuh semangat kemantaban mengubah nasib “Aku harus berbisnis”. Berangkat dari pemahaman sederhana di benaknya, bahwa bisnis itu, tercipta dari dua komponen. Satu invention dan dua entrepreneurship, jadilah bisnis. Segala yang ada disekitarnya, mobil, program TV, ponsel, celana, bus, internet, salon, setrika, lampu, lantai, dan teman-temanya adalah sebuah invention. Sebuah penemuan yang nantinya pada bisnis akan menjadi fungsi produk, baik barang ataupun jasa. Sedangkan entrepreneurship adalah kemauan, dan kemampuan untuk memanajemen bagaimana sistem operasional pembuatan produk hingga pendistribusian dapat berlangsung dengan sempurna. Dan bisnis yang baik adalah bisnis yang pada aspek invention-nya maupun entrepreneurship-nya terdapat inovasi-inovasi. Secara lebih sederhana bisa kita katakan inovasi pada produk dan pada sistem. Indikator parameter yang digunakan cukup sederhana saja. Yang pertama aplikatifitas, evektifitas, dan efisiensi. Contoh inovasi pada produk adalah kursi lipat. Berawal dari mengamati kursi yang sebelumnya memakan banyak tempat, ini menandakan ada aplikatifitas, ada efektifitas untuk duduk, tapi efisiensi tempat masih kurang. Sehingga dibubuhilah dengan inovasi, bagaimana agar kursi yang asalnya makan tempat menjadi tidak makan tempat. Yaitu, dengan dirancang untuk bisa dilipat dan dipindahkan dengan mudah. Ini hanya contoh pada aspek evisiensi saja, sehingga nantinya gedung yang penuh dengan kursi baku bisa beralih fungsi menjadi lapangan futsal karena kursinya dilipat. Selanjutnya contoh inovasi pada sistem, adalah menjual barang secara lebih murah dengan kualitas sama dengan kompetitor sebagai daya saing saat berbisnis, memberikan hadiah gratis setiap sepuluh kali pembelian berkupon, atau melayani setiap konsumen dengan asas human touch, dengan keramahan, senyum, dan menyamankan para tenaga kerja dengan THR (bonus).
            Kesimpulannya, bisnis yang begitu kuat, adalah bisnis yang pada aspek produk maupun sistemnya senantiasa diinovasi secara terus menerus guna menciptakan daya saing dan kemampuan mengahadapi dinamika ekonomi global. Mulailah abas berfikir, mencari sebuah gagasan yang nantinya diubah menjadi ide bisnis sempurna dan dapat diimplementasikan. Siang, malam, pergi ngampus, pulang ngampus, berkutu otaknya dengan lampu-lampu neon bak lembaran kertas komik. Sampai pada malam itu, menyalalah salah satu neon diantara neon-neon yang redup-redap dan mati sentak begitu terang. Jam satu malam yang menilang dia hingga tidak bisa tidur. Memaksa terus berfikir agar bagaimana caranya bisa berbisnis tanpa sepeser dirham, tanpa modal finansial. Yang dia punya hanyalah skill, waktu, tenaga, dan otaknya yang tak begitu cerdas. Akhirnya, bertemulah dia dengan hidayah Alloh S.W.T. yang menuntun dia pada suatu ide yang sederhana, namun tidak membutuhkan banyak dana untuk melakukan start-up. Tempe, sebuah makanan warisan dari nenek moyang, yang hari ini telah mendunia, hingga di Jerman hargannya mencapai 28.000 per porsi piring. Banyaklah orang tau bahwa yang namanya tempe mentah, rasanya ya sepeti layaknya tempe, dimana-mana sama, tinggal bagaimana mengolah, dan apa bumbunya.
Dia membaca di internet, mencari informasi tentang bagaimana membuat tempe. Setelah mengetahui dia berusaha memberikan sebuah inovasi sederhana padannya. Yaitu bagaimana agar tempe yang rasa original-nya sebelum dibuat dan dibumbui sama, tawar. Agar menjadi tempe yang dalam membuatnya hanya tinggal goreng saja tanpa harus memberi bumbu lagi. Sebab, dari tempe tersebut terdapat bumbu-bumbu yang telah tercampur dengan berbagai rasa. Ada rasa pedas manis, tempe rasa keju bakar, tempe rasa gurih asli, dan tempe rasa daging bakar. Berawal dari ide cemerlang ini dia mulai melakukan riset, berusaha mengimplementasikan apa yang telah ia rancang. Namun, kendala utama yang dia hadapi tentu adalah modal. Sedangkan untuk mencari investor, dia harus membuat proposal yang ilmiah serta akurat untuk diajukan pada para pemilik modal. Tidak berhenti sampai disini, dia gadaikan beberapa buku-buku referensi kulyahnya yang begitu berarti, dengan sangat berat hati. Secara teori, prosentase sukses itu 100%, 1 persen teori ideal dan 99% implementasi, sehingga jika abas hanya mempunyai ide saja tanpa peenah melakukan tindakan nyata, ide itu omong kosong. Punya ide, mampu riset dan berhasil, tapi tidak mendapat investor, mungkin hanya mencukupi 30% volume, tidak 100%, artinya tidak sukses juga. Kesimpulannya sukses haruslah 100%, bukan setengah-setengah dan sukses, adalah sebuah perjalanan.
Dari tindakan spontannya itu, sebatangkara yatim ini berhasil menggenggam uang 300 ribu rupiah. Diawali dengan bismillaah, dengan kemantaban hati, dia mulai kalkulasi, uangnya hanya cukup untuk percobaan satu rasa saja, yaitu rasa pedas manis. Tak apalah, segera dia beranjak kepasar ciputat, mencari barang-barang yang dibutuhkan. Mulai dari kedelai, ragi tempe, plastik, gula merah, lombok, panci kompor dan perlengkapan lain seefektif dan seefisien mungkin. Setelah siap, tanpa pikir panjang, dimulailah pembuatan tempe siap goreng rasa pedas manis digubuknya yang dekat dengan pembuanggan sampah. Kendati, identik dengan kotor, yatim piatu ini penjaga kebersihan, kok. Jadi, jangan takut tempe yang direkanya tidak steril.
Setelah terlampaui tiga hari masa, kedelai yang semula direbus, diolah sedemikian rupa, diberi bumbu dalam pembuatan versi mentahnya, tinggal menunggu ujian akhir, jadi tempe atau tidak. Sore menjelang, abas dengan penuh semangat penasaran, mempercepat langkah kakinya melewati 3 km jarak dari kampus ke teduhannya. Bertanya-tanya dalam hatinya, bisakah ragi tempe tumbuh dengan medium kedelai yang dicampur dengan gula merah, garam, bawang putih, bawang merah, dan berbagai bumbu lain?. Dengan jantung berdegup kencang, takut uangnya ludes, sampailah ia didepan pintu rumahnya, dibukalah kunci, bergegas menghampiri kamar yang berubah jadi dapurnya yang sempit. Dan yang terjadi, wajahnya mulai aneh, terkerut-kerut memperhatikan tempe-tempe buatannya, terdiam terpana. Splash!, “Alhamdulillaah, terimakasih banyak yaa Allooh atas karuniaMu ini, Engkau berikan keberhasilan pada percobaanku”, bisiknya dalam hati.
Riset telah berhasil, itu artinya hipotesis telah menjadi kenyataan. Saatnya melangkah ke step selanjutnya, membuat proposal lantas mencari investor. Dalam hal ini Abas menulisnya di kertas folio, kemudian direntalkan, sebab jangankan komputer, untuk makan saja susah. Pendiriannya dalam hidup tetap terjaga oleh Allah, sholatnya tak pernah putus. Otaknya yang selalu berfikir bagi kesejahteraan alam, agaknya menuai setitik cahaya lebih terang lagi. Proposal rencana bisnis yang dipegangnya hanya tinggal menuntun kepada tuannya. Pikirnya dia butuh bantuan orang kaya untuk kaya, butuh bantuan orang kaya untuk berteman dengan orang kaya. Mahasiswa miskin ini berinisiatif, meminta tolong seorang dosen ekonomi yang kebetulan juga orang kaya, tentu sering berkumpul dengan orang-orang kaya pula. Suatu hari sepulang kulyah, dia tunggulah dosen itu, Pak Bari namanya.
Keluarlah dari lobi, bapak yang dimaksud, dia kejar lalu spontan bersalaman. Abas menyapa, “Pak, saya Abas, mahasiswa hubungan internasional kelas A semester empat, saya ingin minta bantuan bapak”. “Bantuan apa ya?”, jawab Pak Bari. Abas mulai menjelaskan panjang tak sedikit lebar hingga pak Bari mengajaknya duduk dikursi taman. Selang sekitar satu jam, muka dosennya mulai sedikit tertarik oleh planning muridnya tersebut, melihat inovasi-inovasi yang dibubuhkan pada produk maupun sistem di rencana bisnisnya. Dengan sangat tegas Pak Bari berkata, “Baik, saya akan bantu carikan kamu investor, tenang, jika hanya seratus juta, teman-teman saya pasti mau, produk kamu bagus kok. Besok kamu kekantor saya jam tiga sore, ruko Indah blok A-9”. Insyaalloh pak, saya datang tepat waktu. Setelah perbincangan usai, dengan tenang Abas pulang, dia sujud syukur kepada Alloh setelah sholat di sepertiga malam hari itu. Tibalah sorenya, berangkat abas ke kantor pak Bari, dan bertemu, diperkenalkan kepada teman dosennya itu, Pak Ardi panggilannya. Singkat perbincangan, pak Ardi sangat tertarik dengan business plan Abas, melihat pasarnya yang minim kompetitor sebab daya saingnya yang tinggi. Kesepakatan diatas MoU pun ditanda tangani waktu itu juga, tanpa berbelit-belit pikir panjang. Dengan ketentuan bagi laba pak ardi 60 persen, sedangkan Abas sebagai pengusaha 40 persen. Tapi karena penghargaan Abas terhadap penuntun jalan kesepakatan ini, abas memberikan 10 persen bagi labanya pada pak Bari. Sungguh perilaku yang begitu terpuji dari si miskin ini.
Tiga mingu terhitung dari hari penandatanganan Abas telah siap untuk melaksanakan start-up perusahaan. Respon masyarakat terhadap New Tempe, merek produk tempenya itu, sangat bagus. Dalam tujuh bulan saja, modal pokok seratus juta Pak Ardi telah kembali. Dalam setahun Abas telah mampu membeli rumah dari kantongnya sendiri walaupun sederhana. Hidup dengan berkecukupan, dan mampu menyisihkan sebagian hartanya untuk zakat, infaq, dan sodakoh, terutama bagi para anak yatim yang serasa hati denganya. Sebatangkara miskin ini tidak sedikitpun punya rasa sombong dihatinya. Teringat pesan Pak Kasno juga, “Naak, tetaplah rendah hati dimanapun engkau berada, kapanpun engkau bernafas”. Kulyahnya pun lancar, hingga akhirnya dia lulus dengan predikat cumlaude bernilai IPK 3,7 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Yatim piatu yang diwisuda tanpa seorang ayah atau pun bunda. Sang sederhana ini lantas menikah dengan bidadari solehah yang diturunkan Alloh kedunia. Wajahnya mirip public figure Dian Sastrowardoyo, namun, jiwa dan hatinya seperti Aisyah istri Rasululloh S.A.W yang mulia. Dia hidup bahagia dengan iman islam, dan ilmunya yang tinggi, yang tidak pernah ia banggakan sedikitpun, karena perasaannya yang selalu merasa masih bodoh dan miskin. Baru saja menikah, lalu mempunyai seorang anak laki-laki bernama umar. 

            Lima belas tahun sudah, remaja miskin anak panti ini merantau di ibu kota. Perusahaan telah besar dan menjadi badan hukum berbentuk PT. dengan dia sebagai direktur utamanya sedangkan pak Bari presdir. Suatu malam, teringat dia akan hidupnya yang sukar, dia hanya duduk terdiam di teras rumahnya semalaman sambil anak istrinya tidur lelap. Mengingat-ingat garis hidupnya, apa yang telah dilakukannya selama ini. Agak tersentak hatinya, tiba-tiba dia ingat pesan bu Munawaroh, janda tua sekaligus orang yang telah mengurusnya sejak kecil dipanti asuhan. “Kesalahan kecil orang besar tidaklah terlihat, yang terlihat hanyalah jasanya, tapi jasa besar orang kecil tidaklah terlihat, tapi kesalahan kecilnya terlihat”. Suasana-suasana bersama saudara panti sejak kecil, membuatnya menangis haru, ketika merasakan makanan sederhana dengan berebut, tidur berlima seranjang. Bercanda ria menenangkan jiwa dari kesebatangkaraan, dan kesempatan-kesempatan untuk belajar tegar. Abas melankolis yang hidupnya sarat pelajaran berharga, masih diliputi cita-cita untuk menjadi orang yang memikirkan masa depan terbaik.
            Pulang, pulang, pulang dengan membawa oleh-oleh ilmu pengetahuan, ke panti asuhan, tempatnya berhutang, banyak pelajaran. Sampailah keluargannya kepada tanah lalu tempat biji dirinya tertapak tanam. Bu Munawaroh, bangga melihat seorang yang semangatnya tidak pernah luntur ini. Tapi tetap, hidupnya belum usai sampai disini, perjuangan masih akan berlanjut. Hidup adalah perjuangan, setiap perjuangan membutuhkan pengorbanan, tak mau berkorban jangan berjuang, tak mau berjuang jangan hidup. Seberapa banyak kau memanen, selelah itulah kau menanam. Maka tanamlah sebanyak mungkin pohon kebaikan, agar sebanyak mungkin kau dapat petik buah kebaikannya kelak. Yang dibenaknya saat itu.
            Dari : Bayi berlari
            Mahasiswa Hubungan Internasional

No comments:

Post a Comment

Please comment by your kindness....thanks for your visit... : )