SEMAKNA FILM
DEBTOCRACY
“Kekayaan takkan
dibawa mati”
Fenomena
yang di tunjukan serta dipaparkan oleh para politisi dan ekonom Yunani juga Ekuador sebagai bagian dari
golongan negara tertindas kiranya cukup membuat mata lebih terbelalak. Bahwa
janji dan manisnya para agensi kapitalis milik para superpower ekonomi seperti
IMF, World Bank, atau organisasi internasional bak WTO, Uni Eropa untuk
membangun ekonomi rakyat bukanlah semata-mata kebenaran. Dalih bahwa negara
dunia ketiga yang dalam tanda kutip “crises” sangat membutuhkan bantuan
negara-negara core dalam banyak hal
mulai teknologi, pendidikan, politik, sampai utang yang kerap dipoles sebagai
bantuan luar negeri. Meskipun bisa juga diasumsikan sebagai alat pembangun
ketergantungan dan pengebirian kedaulatan, bagaimanapun pada prinsipnya telah
menjadi pasal utama di ranah penerapan ekonoomi dunia.
Apalagi
dengan legitimasi dukungan “the
superpower states” yang secara individu sebenarnya sangatlah protektif
dalam urusan ekonomi tapi berusaha membuka kesempatan selebar jagat untuk
mencari inang yang bisa diperdaya melalui demokratisasi, privatisasi, juga
latah dalam berhutang. Sudah tak dapat dipungkiri bahwa menurut Amnesty internasional, Tranparancy Internasional, atau LSM
internasional lain, tingkat kriminalitas
di negara peripheri selalu lebih tinggi dibanding negara yang relatif
sejahtera. Korupsi, imigran gelap, kasus TOC, transfer narkoba antarnegara,
perdebatan gender, atau sekedar masalah disease
akibat kelaparan kurang gizi. Alhasil negara yang sudah jatuh berusaha berdiri
seolah-olah secara sengaja dijorokkan kembali dengan pembelitan utang dengan
bunga tinggi sampai-sampai para bayi mungil tak berdosa 40-50 tahun mendatang
yang belum lahir, alias baru direncanakan, wajib memikulnya. Sehingga rakyat
yang hari ini di klaim kurang produktif, not
ready to compete, ber-value added
rendah, minim pendidikan, terbelakang akan berkelanjutan hidup dengan motto
bekerja seumur hidup, dan seumur hidup adalah untuk bekerja, melayani para bos,
para kapitalis.
Padahal
secara agung ilmu ekonomi dan politik sendiri secara khusus diproses dan
dibentuk untuk bersama-sama membangun kesejahteraan meskipun akan tetap ada gap
antara yang kaya dan yang miskin, pengatur dan yang diatur, sudah seharusnya
kita meminimalisir sekecil mungkin. Terutama bagi kebutuhan yang mendasar,
menyangkut perihal human security,
dimana sesungguhnya pembangunan yang terbaik adalah pembangunan manusia.
Penekanan bagi penguatan pekerja sebagai bagian integral dari kegiatan
produksi, distribusi dan konsumsi adalah salah satu hal yang perlu disoroti
lebih mendalam pada kasus yunani. Sebab penyelamatan yang berujung pada keamanan
lintah raksasa alias bank dan korporasi besar saja tidaklah memberi dampak
positif signifikan bagi pertumbuhan ekonomi secara umum. ILO perlu bertindak
lebih keras dalam hal ini. Hari ini, pasca menjamurnya mainstream neolibaral
yang membebaskan pasar untuk lebih aktif berjoget daripada pemerintahan negara,
sudah barang tentu gejolak perseteruan kelas akan selalu muncul di
tengah-tengah masyarakat, dengan kapitalis sebagai biang keladi yang akan
selalu menang. Merekalah yang hari ini akan dipuja dan dipuji, dijamu dan
disunggi oleh negara sebagai pengalir investasi pembebas pengangguran. Negara
akan sedikit menunduk memandangnya, bahkan menyerahkan secuil demi secuil
otoritasnya, sampai bilget saja bersalaman dengan presiden korsel dengan tak
sopanya menyelipkan satu tangan ke saku celana, lalu berpongah.
IMF
dari perpektif mereka, dianggap tak banyak belajar dari kasus Argentina, dimana
dalam dalih bantuanya yang mendevaluasi mata uang telah gagal. Namun nasi telah
menjadi tinja, pemaksaan berhutang yang pembayarannya adalah amoral,
pengutangannya pun amoral, lebih-lebih kerjasama antara pemerintah otoriter
dengan para lintah darat disistem demokratis. Seperti dibaratkan juara tinju
kelas berat bertarung melawan kelas bulu, barangkali seperti Muhammad Ali lawan
Chris John, yang bertanding di kuburan. Kebijakan presiden Ekuador Rafael
Correa saat menjabat menteri keuangan yang merubah pengalokasian anggaran
negara hasil minyak hanya 20 % untuk pembayaran hutang sedang yang 80 % untuk
pelayanan kesehatan, pembangunan infrastruktur, penyediaan lapangan kerja, dll.
Dari sebelumnya yang sebaliknya 20% bagi pembangunan dan 80% untuk bayar hutang
sangatlah berani. Bahkan bersedia keluar dari kementrian demi melawan pasal
World Bank yang mengintervensi kedaulatan yuridiksi tersebut. Dan Bank Dunia
mengancam takkan memberi pinjaman lagi pada Ekuador jika sampai menghapus salah
satu saja pasal titipanya.
Menyoal
lebih lanjut perihal penghapusan utang yang konsepnya digagas oleh Alexander
Suck pada 1927. Yangmana membela kepentingan negara miskin, meskipun mudah juga
digunakan sebagai dalih mengelak atas utang, khususnya negara yang mengalami
suksesi. Kebanyakan telah mulai membudaya, tak maunya negara suksesor membayar
utang rezim kunonya yaitu predesessornya, karena memang utang sangatlah
menjijikkan dan menyengsarakan. Alexander Suck menyebut tiga alasan utama
parameter odious debt. Yaitu : 1.
Pemerintah negara menerima pinjaman tanpa izin dan persetujuan rakyat, 2.
Pinjaman tidak digunakan bagi kebijakan yang bermanfaat bagi rakyat, 3. Pemberi
pinjaman mengerti situasi ini, tapi berpura-pura tidak tahu. Pemaparan ini
sangat revolusioner dan melayani kepentingan penyelesaian problem sampai banyak
menuai afirmative statement.
Contohnya kasus Iraaq, Sadam Husain yang dituduh sebagai penjahat perang
mengalokasikan dananya Cuma-cuma hanya untuk pembangunan militer. Padahal
banyak rakyat yang masih membutuhkan berbagai macam kebutuhan yang lebih
fundamental untuk dipenuhi. Saya rasa, kesimpulan utama yang bisa kita ambil
adalah. Bahwa peripheri memang harus dibantu oleh negara core guna melakukan industrialisasi. Namun, untuk bersama-sama
tumbuh, bukan diperbudak, modus menciptakan ketergantungan negatif. Sehingga
dimanapun manusia berada, kesejahteraan ada disampingnya. Demikian......
Dari : Bayi
berlari
Mahasiswa Hubungan Internasional

Oke...I agree with you
ReplyDelete