Tuesday, July 16, 2013

“SOEKARNO, ISLAM, DAN NASIONALISME: SUATU TANGGAPAN ATAS DISKUSI SOEKARNO DAN ISLAM”


“SOEKARNO, ISLAM, DAN NASIONALISME: SUATU TANGGAPAN ATAS DISKUSI
SOEKARNO DAN ISLAM”

  
 ""Jasmerah" : Jangan melupakan sejarah "

         Sebagai seorang manusia yang berpikir dan menalar mengenai perihal sejarah bangsa ini yang secara spesifik mengenal dan memperhubungkan Soekarno dan Islam. Maka yang pertama ingin saya katakan adalah jika kita melihat kepada muslim, maka muslim itu manusia, tidak sempurna, bisa salah. Namun jika melihat kepada Islam maka, dia dari Allah, Yang Maha Sempurna, tidak akan salah. Soekarno sebagai seorang manusia tentu tidak luput dari satu kata yaitu kekhilafan. Dan bagaimanapun dia juga telah besar berjasa bagi negara ini, hanya bagi segelintir dua gelintir manusia berpengetahuan kadang tidak puas menerima begitu saja jargon dan doktrin-doktrin pembenaran kesempurnaan seorang Sukarno dengan berbagai gelar kebesaran yang disandangnya ini. Bukan bermakhsud untuk mencari-cari kesalahan orang lain, bersu’udzon, atau mengingkari jasanya. Namun, sebagai generasi baru yang sepatutnya menghargai jasa-jasa para the founding fathers-nya, berusaha lebih objektif melihat sisi lain dari sejarah dengan prespektif dan paradigma yang bermacam pandang. Semata untuk mengambil pelajaran, apa positifitas yang bisa dipetik dari dunia lampau mereka dan apa yang harusnya dihindari dan diterjemahkan kembali sebagai titik tolak dari tujuan Indonesia merdeka semu sekarang.
            Seminar Soekarno dan Islam barangkali merupakan satu progam yang secara konservatif menghilangkan atau menilang proses de-Soekarnoisasi yang dicanagkan orde baru. Bagaimana tidak, dengan cara seperti ini pulalah kiranya kita dapat melihat sisi baiknya Soekarno secara lebih obyektif sebagai generasi pembangunan, mengingat gelegar jargon “Jasmerah”. Dan tidak melulu menerima lalu memakan mentah-mentah apa yang seharusnya kita masak dahulu agar tidak pahit dikemudian hari. Ya, Soekarno, seorang pembaca yang hebat, yang selalu haus akan ilmu pengetahuan, yang semangatnya berkobar-kobar menularkan bakar jiwa kemerdekaan dan perjuangan. Telah banyak berlayar pada lautan pengetahuan di barat dan timur, utara dan selatan, hingga akhirnya jadi sorotan manusia dari delapan penjuru mata angin. Seperti yang saya kutip dari seminar beberapa patah kata Prof. Syafi’I Ma’arif yang dalam pemaparannya dijelaskan bahwa Soekarno berguru Islam pada H.O.S. Tjokroaminoto secara langsung, kepada Ahmad Dahlan – pendiri Muhammadiyah- ketika sesekali beliau berkunjung ke Surabaya untuk bertabligh, dan juga kepada Ahmad Hassan –tokoh Islam Singapura- via surat ketika Soekarno dibuang ke Pulau Endeh.[1]
            Soekarno bahkan sering meminta kiriman-kiriman buku-buku dari A. Hasan, guru Persatuan Islam Bandung. Berikut salah satu kutipan surat beliau yang mungkin timbul karena suatu dorongan untuk menjadi lebih ortodoks atau sebaliknya[2]. ;

            Endeh, 1 Desember 1934
                        Assalamu’alaikum,
                                    Jikalau saudara-saudara memperkenankan, saya minta saudara mengasih hadiah kepada saya buku-buku yang tersebut berikut ini: Pengajaran Shalat, Utusan Wahabi, Al-Muctar, Debat Talqien, Al-Burhan Complete, Al-Jawahir.
Kemudian, jika saudara bersedia, saya minta sebuah risalah yang membicarakan soal “sajid”. Ini buat alasan-alasan saya sendiri tentang hal ini. Walaupun Islam zaman sekarang menghadapi soal yang beribu-ribukali lebih besar dan lebih sulit daripada soal “sajid” itu, toch menurut keyakinan saya salah satu kejelasan Islam zaman sekarang ini, ialah pengamatan manusia yang menghampiri kemusyrikan itu. Alasan-alasan kaum “sajid”, misalnya mereka punya brosur “bukti kebenaran”, saya sudah baca, terapi tidak bisa meyakinkan saya. Tersesatlah orang yang mengira, bahwa Islam mengenal suatu “Aristokrasi Islam”. Tiada agama yang menghendaki kesamarataan lebih daripada islam. Pengeramatan manusia itu adalah salah satu sebab yang mematahkan jiwa suatu agama dan umat, oleh karena pengeramatan itu melanggar tauhid. Kalau tauhid rapuh maka datang kebathilan!.....
            Terlihat bahwa Soekarno muda dengan penuh passion sangat tertarik dengan ilmu-ilmu Islam yang fundamental. Kritisitas yang dipunyainya dalam memandang keadaan rakyat pada masanya begitu tinggi tanpa berlebihan cakrawala paradigma Islamnya luas. Soekarno merupakan putra dari Raden Soekemi seorang priyayi Jawa yang mengaku menganut beragama Islam,akan tetapi sebenarnya ia adalah seorang penganut ajaran Theosofi Jawa [3]. Ibunya berasal dari keturunan Brahmana Bali dan menganut agama Hindhu. Keduanya memiliki pengaruh yang besar terhadap kehidupan agamanya. Ketika ia belajar di Surabaya dan bertempat tinggal di rumah Tjokroaminoto, seorang politikus Islam terkenal, ia banyak mendapat pengaruh dari tokoh ini. Baik mengenai pemikiran politiknya maupun keislamannya, terutama pemikiran keagamaan yang dianggap Soekarno jauh lebih luas dari pikiran tokoh-tokoh Islam tradisonal di masa itu. Di dalam diri Soekarno tergambar budaya Jawa yang memiliki unsur sinkretisme di dalamnya. Pengaruh baik dan buruk dari unsur tersebut dapat digabungkan menjadi satu paham yang harmonis. Pemikiran Soekarno memiliki perwujudan budaya Jawa yang sinkretis karena dia merupakan manusia yang sintesa. Sebagaimana ia ceritakan kepada Cindy Adams :

“Pada tahun 1926..aku banyak berpikir dan berbicara tentang Tuhan.Sekalipun di negeri kami sebagian terbesar rakyatnya beragama Islam,namun konsepsiku tidak disandarkan semata-mata kepada Tuhannya orang Islam”.[4]
            Dengan kata lain pengetahuan agama soekarno tidaklah sempit saya kira. Sebab terlihat dalam tulisan-tulisannya dalam surat-suratnya kepada A. Hassan yang sarat akan hal-hal kontroversil membicarakan tentang tabir[5], tentang sekulerisme gaya Soekarno, pengejawantahan dari Islam moderen yang tidak seharusnya hanya mengutamakan taklidisme saja, melainkan harus juga menyajikan kesempatan untuk menciptakan outlook (menurut bahasa beliau) bagi setiap insan muslim itu sendiri. Bahkan dia berbicara tentang perjuangan Martin Luther yang berusaha meremajakan Katolikisme yang juga tidak progress katanya. Namun, disamping daripada itu saya juga tidak setuju dengan pernyataan-pernyataan yang disinggung pada seminar Soekarno dan Islam, yang mengatakan Soekarno dapat dijadikan madzab tersendiri. Ya, entah hanya bergurau canda saja ataukah benar-benar serius saung-saung yang terdengar tersebut. Kalau kita mengiyakan, tentu barangkali aneh kesannya jika benar demikian. Bagaimana tidak, seorang Soekarno yang tidak mahir bahasa Arab[6], tidak hafal sekian ribu hadis beserta sanadnya - seperti yang kita tahu bahwa hanya Islamlah satu-satunya agama yang benar-benar memelihara perihal sanad ini – tidak pula hafal Al-Qur’an, apalagi ini yang menjadi pokok fundamentalnya. Tidak pula ahli ilmu tafsir dan berbagai macam persyaratan untuk menjadi mufassir[7] pun tak ia punyai. Namun, jikalau kita menidakkan, maka anehnya pun juga terasa, mengapa hal seperti itu dikatakan dalam forum yang seresmi, sebesar dan seformal itu.
            Oke, sebagai seorang orator yang ulung, retorik yang hebat, pemikir dan pencetus ide-ide yang revolusioner, pengetahuan dan nalar seorang Soekarno memang tidak diragukan begitu saja, meskipun dalam soal agama, yang sepertinya juga ia sendiri telah melakukan perbandingan-perbandingan antara agama-agama lain selain Islam. Melihat kehidupan keagamaan Soekarno yang mendapat beberapa pengaruh aliran keyakinan, dari kedua orang tuanya sendiri yang berbeda agama plus kejawen, dari HOS. Tjokroaminoto dan Akhmad Dahlan, sampai menyela kehidupan pendidikannya yang selalu bersama non-muslim. Hingga dia begitu yakin dan mantab iman, berani mengatakan dengan tegas mana yang menurut pemahamannya hitam dan putih dari yang abu-abu. Mengorek-ngorek apa yang masih janggal dan berani menanyakan ketegasan-ketegasan yang belum ditegaskan. Namun, tetap saja tidak ada sejarah yang mencatat, Soekarno memenuhi kualifikasi sebagai seorang mufassir.
            Tanpa berlebihan setelah beberapa hari ini saya ngopi bersama beliau melalui video-video-nya dan tulisan-tulisannya. Agaknya saya agak terjangkit atau tertular lebih tepatnya, sehingga timbul secara obsesif gaya bicara dan gaya bahasa beliau yang kental dengan nada-nada tegas. Dan beliau telah menyiratkan serta berbincang bahwa sebenarnya ideologi negara ini yang menjadi petunjuk jalan arahnya kemana bangsa ini akan pergi adalah sebenarnya campuran dari ideologi-ideologi yang eksis pada zamannya. Termasuk juga pengaruh dari penyandang nama-nama besar seperti Hatta, Syahrir atau Tan Malaka[8] dan para pemimpin pergerakan kemerdekaan masa itu. Dan yang paling tidak disangka negara berlabel demokrasi terpimpin itu ternyata gubahan dari Marxist/Komunisme, Nasionalisme, dan Islamisme hingga sampai marhaenisme alias komunisme ala Indonesia versi bapak Proklamator, juga sekularisasi. Namun yang janggal jika dihubungkan dengan diskusi tersebut diatas, mengapa para pembicara yang notabene-nya adalah akademisi kelas tinggi tidak menyinggungnya secara mendetail. Sebab bagaimanapun dalam pengamatan melalui kacamata sejarah hal ini telah menjadi polemik yang berkepanjangan. Pendapat ekstrem yang dianggap sekuler, karena menggabungkan Islam dengan Komunisme yang jelas-jelas mengingkari Tuhan. Sangat disayangkan memang, namun bagaimana jika kita menyimak pendapat-pendapat Soekarno sendiri tentang Nasionalisme.
            Nasionalisme berasal dari kata nation yang berarti bangsa. Dalam pengertian antropologis dan sosiologis,bangsa adalah suatu masyarakat yang merupakan suatu persekutuan hidup yang berdiri sendiri dan masing-masing anggota persekutuan hidup tersebut merasa kesatuan ras,bahasa,agama,sejarah dan adat istiadat.Dalam pengertian politik,bangsa merupakan masyarakat dalam suatu daerah yang sama,dan mereka tunduk kepada kedaulatan negaranya sebagai suatu kekuasaan tertinggi ke luar dan ke dalam.[9]
Definisi nasionalisme[10] :
a. Encyclopedia Britannica
Nasionalisme merupakan keadaan jiwa,di mana individu merasa bahwa setiap orang memiliki ketiaan dalam keduniaan (sekuler) tertinggi kepada negara kebangsaan.
b. Huszer dan Stevenson
Nasionalisme adalah yang menentukan bangsa mempunyai cinta secara alami kepada tanah airnya.
c. L. Stoddard
Nasionalisme adalah suatu keadaan jiwa dan suatu kepercayaan dianut oleh sejumlah besar manusia perseorangan sehingga mereka membentuk suatu kebangsaan.

Dari sekian banyak definisi yang terpenting adalah kemauan untuk bersatu dalam bidang politik dalam suatu negara kebangsaan (nasional). Jadi rasa nasionalisme itu sudah muncul manakala suatu bangsa memiliki cita-cita yang sama untuk mendirikan suatu negara kebangsaan.
Dalam pidato Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945, dia mengutip dari tiga pendapat yang pernah ditulis atau dilontarkan pada seorang ilmuwan, kemudian menyimpulkan suatu konsepnya sendiri tentang nasionalisme. Ia mengutip dari renan,bahwa syarat bangsa adalah kehendak akan bersatu,orang-orangnya merasa diri satu, dan mau bersatu. Menurut Otto Bauer, bangsa adalah satu kesatuan peringai yang timbul karena persatuan nasib. Dan menurut Ki Bagoes Hadikusumo atau munandar, bangsa adalah persatuan antara orang dan tempat. Dari ketiganya, Soekarno memiliki pendapat bahwa nasionalisme terdiri dari rasa ingin bersatu, persatuan peringai, dan nasib serta persatuan antar orang dan tempat. Dalam pidato lahirnya Pancasila, Soekarno berpendapat bahwa nasionalisme itu pada hakikatnya mengecualikan segala pihak yang tak ikut mempunyai keinginan hidup menjadi satu dengan rakyat. Pada masa penjajahan Eropa, timbulah gerakan nasional di Negara-negara jajahan.  Bentuk dan tujuan gerakan itu hampir sama dan secara hal itu membuat Soekarno kemudian membagi nasionalisme menjadi dua, yaitu Nasionalisme Barat dan Nasionalisme Timur.
1.  Pandangan Soekarno tentang Nasionalisme Barat[11] :
a. Nasionalisme Barat mengandung prinsip demokrasi yang berawal dari revolusi Prancis.Menurut Soekarno demokrasi yang dijalankan hanyalah demokrasi politik,bukan ekonomi.Kemenangan kaum borjuis pada Revolusi Prancis melahirkan demokrasi parlementer atau biasa disebut demokrasi liberal yang melahirkan kapitalisme.
b. Perkembangan nasionalisme yang dijiwai oleh kapitalisme melahirkan imperialisme.Munculnya imperialisme tersebut,menurut Soekarno disebabkan adanya kebutuhan akan bahan mentah,atau masalah rezki.Di samping itu karena adanya rasa kebangsaan yang agresif.
c. Lahirnya nasionalisme yang didasarkan atas kekuatan dan self interest memunculkan nasionalisme sempit atau rasa cinta tanah air yang berlebihan sehingga memunculkan konflik,permusuhan atau pertkaian antara nasionalisme-nasionalisme.
d. Fasisme yang lahir di Barat,yang biasa disebut dengan Nasionalisme Sosialisme.sebagai salah satu bentuk jawaban terhadap perkembangan Nasionalisme Barat yang dijiwai oleh kapitalisme dan demokrasi parlementer
2.  Jika Nasionalisme Barat merupakan nasionalisme yang bersifat chauvinistis yang saling         menyerang, maka menurut Soekarno,nasionalisme Timur adalah :
a. Suatu nasionalisme yang menerima rasa hidupnya sebagai wahyu,menjalankan rasa hidupya itu sebagai suatu bukti.
b. Nasionalisme yang di dalam kelebarannya dan keluasannya memberi cinta pada lain-lain bangsa sebagai lebar dan luasnya udara,yang memberi tempat segenap sesuatu yang perlu untuk hidupnya segala hal yang hidup.
c. Nasionalisme yang membuat kita menjadi “Perkakas Tuhan” dan membuat kita hidup dalam roh…dengan nasionalisme yang demikian maka kita akan insyaf.[12]
d. Nasionalisme yang sama dengan “rasa kemanusiaan”

Mengenai pengaruh marxisme pada nasionalisme timur, Soekarno menyebutkan “Nasionalisme di dunia Timur itu lantas berkawinlah dengan Marxisme itu, menjadi nasionalisme baru, satu ilmu baru, satu itikad baru, satu senjata baru, satu sikap hidup baru. Dan perkawinan itu tidak lantas menjadikan suatu bangsa menjadi komunis. Bahkan perkawinan malah memberi rasa cinta pada bangsa lain. Dari perkawinan inilah timbul nasionalisme baru yang menjadi asas hidup bangsa Indonesia. Pengaruh budaya Jawa telah mendorong Soekarno untuk memadukan atau menyatukan aliran-aliran yang berkembang di Indonesia; Nasionalisme,Islam dan Marxisme. Dibuangnya filosofi Materialisme dari Marxisme, lalu diberinya Tuhan; dibuangnya kemunduran masalampau Islam lalu diberinya kemajuan Marxisme; dibuangnya kesempitan pemikiran nasionalis dan diberinya pengertian yang lebih luas dari pandangannya sendiri.[13]
Pula terdapat berbagai inkonsistensi antara ideologi dan perbuatan politiknya pada saat dia mengalami masa perjuangan dan ketika dia berkuasa penuh dengan keotoriterannya yang berkedok modern namun sesungguhnya amat sangatlah primitif bagi Hatta[14]. Dan berikut saya kutipkan satu dari tulisan Isbodroini Suyanto yang menjelaskan. :
……dalam perkembangan berikutnya beberapa pemimpin Masyumi dan PSI terlibat dalam gerakan-gerakan kedaerahan sehingga kedua pertain tersebut dibubarkan pada 1960. Sejak saat inilah gerakan politik Soekarno seakan tidak menyenagi atau anti kepada golongan Islam modernis. Perlu diketahui bahwa dalam pembuanganya di Bengkulu ia telah masuk menjadi anggota Muhammadiyah, suatu cabang gerakan modernis Islam. Fikiran-fikirannya mengenai pembaharuan Islam juga tercermin antara lain dalam tulisannya yang berjudul “Memudakan Pengertian Islam”.[15]……
Wajarlah mungkin seperti demikian kilas kelakuan Soekarno dimata sejarah. Kesekuleran, machiavelistis, chauvinistis, kediktatoran bersistem modern, Nasakom, Marhaenisme islam Sontoloyo, anti taklidisme pada fiqh saja, bahkan soal wanita dan pensinyaliran-pensinyaliran lain yang dilukis oleh tinta milik sejarah, akan menjadi pelajaran berharga bagi negara ini.[16] Mengingatkan bahwa menjadi pemimpin tidaklah semudah menjadi komentator, tapi sesulit menjadi pemain. Opera akan menjadi bahagia, sedih, atau sekedar tenang dan biasa-biasa saja adalah sebagian besar tergantung pemimpin. Sebab setiap manusia biasa di dunia ini ada kalanya ingat, juga ada kalanya lupa. Barangkali Soekarno yang dengan kelemahannya ini ingin berkuasa, namun kita tahu bahwa dia sesungguhnya sangat mencintai rakyatnya. Memang kekuasaan itu gula, tentu banyak semut di sekitarnya. Pemimpin ibaratlah sopir, pasti punya lelah. Sepertinya juga, Soekarno sudah mengantuk sebab terlalu semangat sepanjang hidupnya. Atau tidak mengantuk, tapi tidak sengaja minum obat tidur sehingga jadi mengantuk. Saya sendiri terus terang agak takut mengupas hal yang sejatinya harus dikupas dengan pisau yang sangat tajam. Dengan cakrawala pandang yang berimbang melihat dari berbagai sudut tanpa kompromi, baru kemudian membuat semacam konklusi. Namun Soekarno tetaplah Soekarno, salah satu tukang negara ini, pemersatu tukang dari golongan pribumi maupun priyayi. Yang akhirnya membangun Republik ini, setidaknya memberi hela nafas panjang berjuta kebebasan bagi negeri yang lebih dari 350 tahun dipaksa kerja rodi. Yang hari ini kita rasakan begitu indah, daripada kakek-nenek moyang kita yang sepuh dahulu raya. Terima kasih para pendiri bangsa, jasamu abadi selamanya. Semoga saya tak seolah menghakimi.


[1] Diskusi “Soekarno dan Islam” UIN Jakarta pada Kamis, 14 Juni 2012
[2] Islam Sontoloyo hal. 1
[3] http://fisip.uns.ac.id/blog/cupha/2010/12/25/soekarno-islam-dan-marxisme/ Tgl. 15 Juni 2012  Artikel: Soekarno dan Islam. oleh : Ade Puspa
[4] Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Biografi BK yang ditulis Cindy Adams
[5] Islam sontoloyo hal. 31
[6] http://maulanusantara.wordpress.com/2011/02/06/memahami-pemikiran-islam-soekarno dikutip:14 Juni 2012
[7] Manna’ Khalil al-Qattan Studi Ilmu-Ilmu Quran hal. 426 Bab. Syarat-syarat menjadi mufassir
[8]  Berpaham komunis (Prisma, manusia dalam kemelut sejarah) diterbitkan oleh LP3ES
[9]  Budianto, Pendidikan Kewarganegaraan SMA kelas X diterbitkan oleh Erlangga hal. 23
[10] Budianto, Pendidikan Kewarganegaraan SMA kelas X diterbitkan oleh Erlangga hal. 23

[11] fisip.uns.ac.id Artikel: Soekarno dan Islam. oleh : Ade Puspa
[12] Soekarno, Pemikiran Politik dan Kenyatan Praktek hal. 40
[13] fisip.uns.ac.id Soekarno dan Islam oleh : Ade Puspa
[14] Mohammad Hatta, “ A Dictatorship Supported by Certain Group” dalam Feith Castel op. cit. hal 138-141
[15] Dibawah Bendera Revolusi, Jilid I, hal. 369-402 dalam Soekarno Pemikiran Politik dan Kenyatan Praktek
[16] Disari dari buku Soekarno, Pemikiran Politik dan Kenyatan Praktek

Dari : Bayi berlari
            Mahasiswa Hubungan Internasional

No comments:

Post a Comment

Please comment by your kindness....thanks for your visit... : )