“SOEKARNO,
ISLAM, DAN NASIONALISME: SUATU TANGGAPAN ATAS DISKUSI
SOEKARNO
DAN ISLAM”
""Jasmerah" : Jangan melupakan sejarah "
Sebagai seorang
manusia yang berpikir dan menalar mengenai perihal sejarah bangsa ini yang
secara spesifik mengenal dan memperhubungkan Soekarno dan Islam. Maka yang
pertama ingin saya katakan adalah jika kita melihat kepada muslim, maka muslim
itu manusia, tidak sempurna, bisa salah. Namun jika melihat kepada Islam maka,
dia dari Allah, Yang Maha Sempurna, tidak akan salah. Soekarno sebagai seorang
manusia tentu tidak luput dari satu kata yaitu kekhilafan. Dan bagaimanapun dia
juga telah besar berjasa bagi negara ini, hanya bagi segelintir dua gelintir
manusia berpengetahuan kadang tidak puas menerima begitu saja jargon dan
doktrin-doktrin pembenaran kesempurnaan seorang Sukarno dengan berbagai gelar
kebesaran yang disandangnya ini. Bukan bermakhsud untuk mencari-cari kesalahan
orang lain, bersu’udzon, atau mengingkari jasanya. Namun, sebagai generasi baru
yang sepatutnya menghargai jasa-jasa para the
founding fathers-nya, berusaha lebih objektif melihat sisi lain dari
sejarah dengan prespektif dan paradigma yang bermacam pandang. Semata untuk
mengambil pelajaran, apa positifitas yang bisa dipetik dari dunia lampau mereka
dan apa yang harusnya dihindari dan diterjemahkan kembali sebagai titik tolak
dari tujuan Indonesia merdeka semu sekarang.
Seminar Soekarno dan Islam
barangkali merupakan satu progam yang secara konservatif menghilangkan atau
menilang proses de-Soekarnoisasi yang dicanagkan orde baru. Bagaimana tidak,
dengan cara seperti ini pulalah kiranya kita dapat melihat sisi baiknya Soekarno
secara lebih obyektif sebagai generasi pembangunan, mengingat gelegar jargon
“Jasmerah”. Dan tidak melulu menerima lalu memakan mentah-mentah apa yang
seharusnya kita masak dahulu agar tidak pahit dikemudian hari. Ya, Soekarno,
seorang pembaca yang hebat, yang selalu haus akan ilmu pengetahuan, yang
semangatnya berkobar-kobar menularkan bakar jiwa kemerdekaan dan perjuangan.
Telah banyak berlayar pada lautan pengetahuan di barat dan timur, utara dan
selatan, hingga akhirnya jadi sorotan manusia dari delapan penjuru mata angin.
Seperti yang saya kutip dari seminar beberapa patah kata Prof. Syafi’I Ma’arif
yang dalam pemaparannya dijelaskan bahwa Soekarno berguru Islam pada H.O.S.
Tjokroaminoto secara langsung, kepada Ahmad Dahlan – pendiri Muhammadiyah- ketika
sesekali beliau berkunjung ke Surabaya untuk bertabligh, dan juga kepada Ahmad
Hassan –tokoh Islam Singapura- via surat ketika Soekarno dibuang ke Pulau
Endeh.[1]
Soekarno bahkan sering meminta kiriman-kiriman
buku-buku dari A. Hasan, guru Persatuan Islam Bandung. Berikut salah satu
kutipan surat beliau yang mungkin timbul karena suatu dorongan untuk menjadi
lebih ortodoks atau sebaliknya[2].
;
Endeh, 1 Desember 1934
Assalamu’alaikum,
Jikalau
saudara-saudara memperkenankan, saya minta saudara mengasih hadiah kepada saya
buku-buku yang tersebut berikut ini: Pengajaran Shalat, Utusan Wahabi,
Al-Muctar, Debat Talqien, Al-Burhan Complete, Al-Jawahir.
Kemudian, jika saudara bersedia, saya
minta sebuah risalah yang membicarakan soal “sajid”. Ini buat alasan-alasan
saya sendiri tentang hal ini. Walaupun Islam zaman sekarang menghadapi soal
yang beribu-ribukali lebih besar dan lebih sulit daripada soal “sajid” itu, toch menurut keyakinan saya salah satu
kejelasan Islam zaman sekarang ini, ialah pengamatan manusia yang menghampiri
kemusyrikan itu. Alasan-alasan kaum “sajid”, misalnya mereka punya brosur “bukti kebenaran”, saya sudah baca,
terapi tidak bisa meyakinkan saya. Tersesatlah orang yang mengira, bahwa Islam
mengenal suatu “Aristokrasi Islam”. Tiada agama yang menghendaki kesamarataan
lebih daripada islam. Pengeramatan manusia itu adalah salah satu sebab yang
mematahkan jiwa suatu agama dan umat, oleh karena pengeramatan itu melanggar
tauhid. Kalau tauhid rapuh maka datang kebathilan!.....
Terlihat bahwa Soekarno muda dengan
penuh passion sangat tertarik dengan
ilmu-ilmu Islam yang fundamental. Kritisitas yang dipunyainya dalam memandang
keadaan rakyat pada masanya begitu tinggi tanpa berlebihan cakrawala paradigma
Islamnya luas. Soekarno merupakan putra dari Raden Soekemi seorang priyayi Jawa
yang mengaku menganut beragama Islam,akan tetapi sebenarnya ia adalah seorang penganut ajaran Theosofi Jawa [3].
Ibunya berasal dari keturunan Brahmana Bali dan menganut agama Hindhu. Keduanya
memiliki pengaruh yang besar terhadap kehidupan agamanya. Ketika ia belajar di
Surabaya dan bertempat tinggal di rumah Tjokroaminoto, seorang politikus Islam
terkenal, ia banyak mendapat pengaruh dari tokoh ini. Baik mengenai pemikiran
politiknya maupun keislamannya, terutama pemikiran keagamaan yang dianggap
Soekarno jauh lebih luas dari pikiran tokoh-tokoh Islam tradisonal di masa itu.
Di dalam diri Soekarno tergambar budaya Jawa yang memiliki unsur sinkretisme di
dalamnya. Pengaruh baik dan buruk dari unsur tersebut dapat digabungkan menjadi
satu paham yang harmonis. Pemikiran Soekarno memiliki perwujudan budaya Jawa
yang sinkretis karena dia merupakan manusia yang sintesa. Sebagaimana ia
ceritakan kepada Cindy Adams :
“Pada tahun 1926..aku banyak berpikir
dan berbicara tentang Tuhan.Sekalipun di negeri kami sebagian terbesar
rakyatnya beragama Islam,namun konsepsiku tidak disandarkan semata-mata kepada
Tuhannya orang Islam”.[4]
Dengan kata lain pengetahuan agama
soekarno tidaklah sempit saya kira. Sebab terlihat dalam tulisan-tulisannya
dalam surat-suratnya kepada A. Hassan yang sarat akan hal-hal kontroversil
membicarakan tentang tabir[5],
tentang sekulerisme gaya Soekarno, pengejawantahan dari Islam moderen yang
tidak seharusnya hanya mengutamakan taklidisme saja, melainkan harus juga
menyajikan kesempatan untuk menciptakan outlook
(menurut bahasa beliau) bagi setiap insan muslim itu sendiri. Bahkan dia
berbicara tentang perjuangan Martin Luther yang berusaha meremajakan
Katolikisme yang juga tidak progress
katanya. Namun, disamping daripada itu saya juga tidak setuju dengan
pernyataan-pernyataan yang disinggung pada seminar Soekarno dan Islam, yang
mengatakan Soekarno dapat dijadikan madzab tersendiri. Ya, entah hanya bergurau
canda saja ataukah benar-benar serius saung-saung yang terdengar tersebut.
Kalau kita mengiyakan, tentu barangkali aneh kesannya jika benar demikian.
Bagaimana tidak, seorang Soekarno yang tidak mahir bahasa Arab[6],
tidak hafal sekian ribu hadis beserta sanadnya - seperti yang kita tahu bahwa
hanya Islamlah satu-satunya agama yang benar-benar memelihara perihal sanad ini
– tidak pula hafal Al-Qur’an, apalagi ini yang menjadi pokok fundamentalnya.
Tidak pula ahli ilmu tafsir dan berbagai macam persyaratan untuk menjadi
mufassir[7]
pun tak ia punyai. Namun, jikalau kita menidakkan, maka anehnya pun juga
terasa, mengapa hal seperti itu dikatakan dalam forum yang seresmi, sebesar dan
seformal itu.
Oke, sebagai seorang orator yang
ulung, retorik yang hebat, pemikir dan pencetus ide-ide yang revolusioner,
pengetahuan dan nalar seorang Soekarno memang tidak diragukan begitu saja,
meskipun dalam soal agama, yang sepertinya juga ia sendiri telah melakukan
perbandingan-perbandingan antara agama-agama lain selain Islam. Melihat
kehidupan keagamaan Soekarno yang mendapat beberapa pengaruh aliran keyakinan,
dari kedua orang tuanya sendiri yang berbeda agama plus kejawen, dari HOS. Tjokroaminoto dan Akhmad Dahlan, sampai
menyela kehidupan pendidikannya yang selalu bersama non-muslim. Hingga dia
begitu yakin dan mantab iman, berani mengatakan dengan tegas mana yang menurut
pemahamannya hitam dan putih dari yang abu-abu. Mengorek-ngorek apa yang masih
janggal dan berani menanyakan ketegasan-ketegasan yang belum ditegaskan. Namun,
tetap saja tidak ada sejarah yang mencatat, Soekarno memenuhi kualifikasi
sebagai seorang mufassir.
Tanpa berlebihan setelah beberapa
hari ini saya ngopi bersama beliau
melalui video-video-nya dan tulisan-tulisannya. Agaknya saya agak terjangkit
atau tertular lebih tepatnya, sehingga timbul secara obsesif gaya bicara dan
gaya bahasa beliau yang kental dengan nada-nada tegas. Dan beliau telah
menyiratkan serta berbincang bahwa sebenarnya ideologi negara ini yang menjadi
petunjuk jalan arahnya kemana bangsa ini akan pergi adalah sebenarnya campuran
dari ideologi-ideologi yang eksis pada zamannya. Termasuk juga pengaruh dari
penyandang nama-nama besar seperti Hatta, Syahrir atau Tan Malaka[8]
dan para pemimpin pergerakan kemerdekaan masa itu. Dan yang paling tidak
disangka negara berlabel demokrasi terpimpin itu ternyata gubahan dari
Marxist/Komunisme, Nasionalisme, dan Islamisme hingga sampai marhaenisme alias
komunisme ala Indonesia versi bapak Proklamator, juga sekularisasi. Namun yang
janggal jika dihubungkan dengan diskusi tersebut diatas, mengapa para pembicara
yang notabene-nya adalah akademisi kelas tinggi tidak menyinggungnya secara
mendetail. Sebab bagaimanapun dalam pengamatan melalui kacamata sejarah hal ini
telah menjadi polemik yang berkepanjangan. Pendapat ekstrem yang dianggap
sekuler, karena menggabungkan Islam dengan Komunisme yang jelas-jelas
mengingkari Tuhan. Sangat disayangkan memang, namun bagaimana jika kita
menyimak pendapat-pendapat Soekarno sendiri tentang Nasionalisme.
Nasionalisme berasal dari kata
nation yang berarti bangsa. Dalam pengertian antropologis dan sosiologis,bangsa
adalah suatu masyarakat yang merupakan suatu persekutuan hidup yang berdiri
sendiri dan masing-masing anggota persekutuan hidup tersebut merasa kesatuan
ras,bahasa,agama,sejarah dan adat istiadat.Dalam pengertian politik,bangsa
merupakan masyarakat dalam suatu daerah yang sama,dan mereka tunduk kepada
kedaulatan negaranya sebagai suatu kekuasaan tertinggi ke luar dan ke dalam.[9]
Definisi
nasionalisme[10] :
a.
Encyclopedia Britannica
Nasionalisme
merupakan keadaan jiwa,di mana individu merasa bahwa setiap orang memiliki
ketiaan dalam keduniaan (sekuler) tertinggi kepada negara kebangsaan.
b.
Huszer dan Stevenson
Nasionalisme
adalah yang menentukan bangsa mempunyai cinta secara alami kepada tanah airnya.
c. L. Stoddard
Nasionalisme
adalah suatu keadaan jiwa dan suatu kepercayaan dianut oleh sejumlah besar
manusia perseorangan sehingga mereka membentuk suatu kebangsaan.
Dari sekian banyak definisi yang
terpenting adalah kemauan untuk bersatu dalam bidang politik dalam suatu negara
kebangsaan (nasional). Jadi rasa nasionalisme itu sudah muncul manakala suatu
bangsa memiliki cita-cita yang sama untuk mendirikan suatu negara kebangsaan.
Dalam
pidato Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945, dia mengutip dari tiga pendapat yang
pernah ditulis atau dilontarkan pada seorang ilmuwan, kemudian menyimpulkan
suatu konsepnya sendiri tentang nasionalisme. Ia mengutip dari renan,bahwa
syarat bangsa adalah kehendak akan bersatu,orang-orangnya merasa diri satu, dan
mau bersatu. Menurut Otto Bauer, bangsa adalah satu kesatuan peringai yang
timbul karena persatuan nasib. Dan menurut Ki Bagoes Hadikusumo atau munandar, bangsa
adalah persatuan antara orang dan tempat. Dari ketiganya, Soekarno memiliki
pendapat bahwa nasionalisme terdiri dari rasa ingin bersatu, persatuan
peringai, dan nasib serta persatuan antar orang dan tempat. Dalam pidato
lahirnya Pancasila, Soekarno berpendapat bahwa nasionalisme itu pada hakikatnya
mengecualikan segala pihak yang tak ikut mempunyai keinginan hidup menjadi satu
dengan rakyat. Pada masa penjajahan Eropa, timbulah gerakan nasional di
Negara-negara jajahan. Bentuk dan tujuan
gerakan itu hampir sama dan secara hal itu membuat Soekarno kemudian membagi
nasionalisme menjadi dua, yaitu Nasionalisme Barat dan Nasionalisme Timur.
1. Pandangan Soekarno tentang Nasionalisme Barat[11]
:
a. Nasionalisme Barat mengandung
prinsip demokrasi yang berawal dari revolusi Prancis.Menurut Soekarno demokrasi
yang dijalankan hanyalah demokrasi politik,bukan ekonomi.Kemenangan kaum
borjuis pada Revolusi Prancis melahirkan demokrasi parlementer atau biasa
disebut demokrasi liberal yang melahirkan kapitalisme.
b. Perkembangan nasionalisme yang
dijiwai oleh kapitalisme melahirkan imperialisme.Munculnya imperialisme tersebut,menurut
Soekarno disebabkan adanya kebutuhan akan bahan mentah,atau masalah rezki.Di
samping itu karena adanya rasa kebangsaan yang agresif.
c. Lahirnya nasionalisme yang
didasarkan atas kekuatan dan self interest memunculkan nasionalisme sempit atau
rasa cinta tanah air yang berlebihan sehingga memunculkan konflik,permusuhan
atau pertkaian antara nasionalisme-nasionalisme.
d. Fasisme yang lahir di Barat,yang
biasa disebut dengan Nasionalisme Sosialisme.sebagai salah satu bentuk jawaban
terhadap perkembangan Nasionalisme Barat yang dijiwai oleh kapitalisme dan
demokrasi parlementer
2. Jika Nasionalisme Barat merupakan
nasionalisme yang bersifat chauvinistis yang saling menyerang, maka menurut
Soekarno,nasionalisme Timur adalah :
a. Suatu nasionalisme yang menerima
rasa hidupnya sebagai wahyu,menjalankan rasa hidupya itu sebagai suatu bukti.
b. Nasionalisme yang di dalam
kelebarannya dan keluasannya memberi cinta pada lain-lain bangsa sebagai lebar
dan luasnya udara,yang memberi tempat segenap sesuatu yang perlu untuk hidupnya
segala hal yang hidup.
c. Nasionalisme yang membuat kita
menjadi “Perkakas Tuhan” dan membuat kita hidup dalam roh…dengan nasionalisme
yang demikian maka kita akan insyaf.[12]
d. Nasionalisme yang sama dengan “rasa
kemanusiaan”
Mengenai pengaruh marxisme pada
nasionalisme timur, Soekarno menyebutkan “Nasionalisme di dunia Timur itu
lantas berkawinlah dengan Marxisme itu, menjadi nasionalisme baru, satu ilmu
baru, satu itikad baru, satu senjata baru, satu sikap hidup baru. Dan
perkawinan itu tidak lantas menjadikan suatu bangsa menjadi komunis. Bahkan
perkawinan malah memberi rasa cinta pada bangsa lain. Dari perkawinan inilah
timbul nasionalisme baru yang menjadi asas hidup bangsa Indonesia. Pengaruh
budaya Jawa telah mendorong Soekarno untuk memadukan atau menyatukan
aliran-aliran yang berkembang di Indonesia; Nasionalisme,Islam dan Marxisme.
Dibuangnya filosofi Materialisme dari Marxisme, lalu diberinya Tuhan; dibuangnya
kemunduran masalampau Islam lalu diberinya kemajuan Marxisme; dibuangnya
kesempitan pemikiran nasionalis dan diberinya pengertian yang lebih luas dari
pandangannya sendiri.[13]
Pula terdapat berbagai inkonsistensi antara
ideologi dan perbuatan politiknya pada saat dia mengalami masa perjuangan dan
ketika dia berkuasa penuh dengan keotoriterannya yang berkedok modern namun
sesungguhnya amat sangatlah primitif bagi Hatta[14].
Dan berikut saya kutipkan satu dari tulisan Isbodroini Suyanto yang
menjelaskan. :
……dalam perkembangan berikutnya
beberapa pemimpin Masyumi dan PSI terlibat dalam gerakan-gerakan kedaerahan
sehingga kedua pertain tersebut dibubarkan pada 1960. Sejak saat inilah gerakan
politik Soekarno seakan tidak menyenagi atau anti kepada golongan Islam modernis. Perlu
diketahui bahwa dalam pembuanganya di Bengkulu ia telah masuk menjadi anggota
Muhammadiyah, suatu cabang gerakan modernis Islam. Fikiran-fikirannya mengenai
pembaharuan Islam juga tercermin antara lain dalam tulisannya yang berjudul
“Memudakan Pengertian Islam”.[15]……
Wajarlah
mungkin seperti demikian kilas kelakuan Soekarno dimata sejarah. Kesekuleran,
machiavelistis, chauvinistis, kediktatoran bersistem modern, Nasakom,
Marhaenisme islam Sontoloyo, anti taklidisme pada fiqh saja, bahkan soal wanita
dan pensinyaliran-pensinyaliran lain yang dilukis oleh tinta milik sejarah,
akan menjadi pelajaran berharga bagi negara ini.[16]
Mengingatkan bahwa menjadi pemimpin tidaklah semudah menjadi komentator, tapi
sesulit menjadi pemain. Opera akan menjadi bahagia, sedih, atau sekedar tenang
dan biasa-biasa saja adalah sebagian besar tergantung pemimpin. Sebab setiap
manusia biasa di dunia ini ada kalanya ingat, juga ada kalanya lupa. Barangkali
Soekarno yang dengan kelemahannya ini ingin berkuasa, namun kita tahu bahwa dia
sesungguhnya sangat mencintai rakyatnya. Memang kekuasaan itu gula, tentu
banyak semut di sekitarnya. Pemimpin ibaratlah sopir, pasti punya lelah.
Sepertinya juga, Soekarno sudah mengantuk sebab terlalu semangat sepanjang
hidupnya. Atau tidak mengantuk, tapi tidak sengaja minum obat tidur sehingga
jadi mengantuk. Saya sendiri terus terang agak takut mengupas hal yang
sejatinya harus dikupas dengan pisau yang sangat tajam. Dengan cakrawala
pandang yang berimbang melihat dari berbagai sudut tanpa kompromi, baru
kemudian membuat semacam konklusi. Namun Soekarno tetaplah Soekarno, salah satu
tukang negara ini, pemersatu tukang dari golongan pribumi maupun priyayi. Yang
akhirnya membangun Republik ini, setidaknya memberi hela nafas panjang berjuta
kebebasan bagi negeri yang lebih dari 350 tahun dipaksa kerja rodi. Yang hari
ini kita rasakan begitu indah, daripada kakek-nenek moyang kita yang sepuh
dahulu raya. Terima kasih para pendiri bangsa, jasamu abadi selamanya. Semoga
saya tak seolah menghakimi.
[1] Diskusi “Soekarno dan
Islam” UIN Jakarta pada Kamis, 14 Juni 2012
[2] Islam Sontoloyo hal.
1
[3] http://fisip.uns.ac.id/blog/cupha/2010/12/25/soekarno-islam-dan-marxisme/ Tgl. 15 Juni 2012 Artikel: Soekarno dan Islam. oleh : Ade Puspa
[4] Bung Karno,
Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Biografi BK yang ditulis Cindy Adams
[5] Islam sontoloyo hal.
31
[6]
http://maulanusantara.wordpress.com/2011/02/06/memahami-pemikiran-islam-soekarno
dikutip:14 Juni 2012
[8] Berpaham komunis (Prisma, manusia dalam
kemelut sejarah) diterbitkan oleh LP3ES
[9] Budianto, Pendidikan Kewarganegaraan SMA kelas
X diterbitkan oleh Erlangga hal. 23
[14] Mohammad Hatta, “ A
Dictatorship Supported by Certain Group” dalam Feith Castel op. cit. hal 138-141
[15] Dibawah Bendera Revolusi, Jilid
I, hal.
369-402 dalam Soekarno Pemikiran Politik dan Kenyatan Praktek
Dari : Bayi
berlari
Mahasiswa Hubungan Internasional
No comments:
Post a Comment
Please comment by your kindness....thanks for your visit... : )