Dari para “Guru”
untuk para “Guru”
untuk para “Guru”
“ Tidaklah seseorang memiliki hati nurani kecuali dididik
oleh orang yang memiliki hati nurani”
Sesuatu
yang berbeda. Sebuah fenomena, gambaran, penakjuban, refleksi dari sepotong
film kehidupan diatas yang menampakkan suatu tafsir, suatu arti. Dua hal yang
saling bertentangan ibu, dua hal yang berbeda, antara muda dan tua, antara
menanam dan memanen, antara berjalan dan berkendara, antara yang buntung dan
tumbuh subur sebagai pohon kehidupan, dan antara pemula dan berpengalaman. Kita
mendapati foto diatas sarat makna serta
pelajaran hidup. Perhatikanlah, dua anak dengan selubung merah putihnya.
Dan seorang tua dengan kereta anginya. Dua anak yang sangat percaya bahwa
engkau mampu mengubah hidup mereeka, memberi mereka secarik lilin buat
digunakan meneruskan perjalanannya tanpa berpangku tangan. Engkau bicara,
kehidupan diluar sana sangatlah keras, tapi engkau kekang kami. Janganlah
engkau persulit orang mencari ilmu, mudahkanlah kami, semoga engkau pun
dipermudah dalam hal kebaikan. Lepaskanlah kami dengan keikhlasan, keihsanan,
keridhoan, dan doamu wahai para pengajar, agar kami selamat pun bermanfaat. Suatu
objek holistik yang menyuguhkan selayang pandang benih-benih padi yang baru
ditanam. Itu ibarat kami bunda, yang nantinya akan menerima tongkat estafetmu
dan meneruskan perjalanan peradaban. Sebagaimana padi di belakang dan pepohonan
rindang yang tumbuh subur sampai akhir hayat. Kami pun yakin, sesungguhnya anda
pun tak ingin, perjalanan kami terputus sebagaimana pohon yang patah ditengah
peerjalanan antara muda dan tua itu, antara hidup dan mati, antara si kanak dan
kereta angin. Namun antara menanam dan memanen, antara padi yang baru mulai
dewasa, dan yang sudah hampir dipanen. Jika menanam maka kemungkinannya ada
dua, kalau tidak berhasil ya gagal. Tapi, kalaulah tidak pernah menanam, sudah
pasti gagal. Ketahuilah guru, cara mengajari kami terbang adalah dengan
membiarkan kami keluar dari sarang dan mengepakkan sayap kami lebih lebar,
memberanikan diri terjun dari atas pohon yang tinggi, meskipun itu berbahaya.
Kami hanyalah bijih-bijih pelok dari negri ini, yang berangkat ke majlis-majlis
ilmu hanya dengan berbekal senyum-senyum para orang tua, berkantong senyum para
the founding father, senyum para ulama, senyum para wali, senyum para sahabat
Muhammad, senyum para nabi, dan senyum para Rosul, semoga tidak terpatahkan hal
demikian. Sesungguhnya menuntut ilmu dengan mengikatkan diri dengan penjara
kelas anak-anak berlabel LP. Sekolah bukanlah satu-satunya jalan, bukanlah
satu-satunya pilihan untuk terdidik. Sekolah tidaklah wajib, menuntut ilmulah
yang wajib. Bukan berarti lembaga pemasyarakatan besutan kementrian pendidikan
negara itu tidak baik, hanya saja menjadikanya seolah-olah ketunggalan mutlak,
sebagai institusi represif yang harus ditaati, yang pengakuanya
diagung-agungkan lewat nilai-nilai hitam putih, diatas kertas, yang menganggap
tes-tes didalamnya adalah pengujian yang paling sempurna, sehingga menghasilkan
berbagai virus abad modern. Penjilatan,
pragmatisme, dan brainstorming yang menjangkiti pola pikir, yang menjadikan
kami hanya rela dengan tinta dan kertas, pengakuan semu. Sebenarnya diri kita
toh tidak dapat diukur dari nilai-nilai itu dengan sebenar-benarya parameter,
sebenar-benarnya pengukuran, validitas, otentitas. Akan tetapi bahwa itu sudah
menjadi ketetapan negara untuk kami agar dapat melanjutkan pencarian abadi
pengetahuan demi kesejahteraan itu, memang benar adanya. Tanpanya, jalan kami akan terasa berat,
pandangan kami letih, dan kesulitan bertingkah saat fajar pagi hari menyapa
kami dan berkata, bagaimana kabarmu hari ini, pendidikanmu?. Biarkan kami tetap
tersenyum setiap pagi menghadap mentari dan berceritera kepadanya bahwa mereka
para guru telah mengajarku dengan luhur. Maka dari itu, mohon mudahkan diri
kita untuk bersama-sama saling menopang, saling berpegangan erat, menjaga
peradaban dimasa tawuran yang sudah menjadi ekstrakulikuler, kemiskinan,
pengangguran bertitel, pergaulan kejahilan, tindakan yang semakin tanpa
berfikir, lupa yang semakin menjadi, yang menghinggapi setiap fikiran, hati dan
jiwa para penguasa, para saya, engkau, kami, kita, mereka, dia, dan setiap yang
berakal serta bernafsu. Jika diam itu emas, maka bicara itu apa?. Sesungguhnya
engkau wahai para guru, tukang peradaban, telah memberikan bagi kami penerangan
serta kemuliaan untuk diperjuangkan. Sebagaimana engkau katakan, bahwa hidup,
adalah perjuangan. Setiap perjuangan membutuhkan pengorbanan. Tak mau berkorban
jangan berjuang. Dan tak mau berjuang jangan hidup. Terima kasih telah
senantiasa menunjuki contoh perjuangan serta pengorbanan yang terbaik.
Berikanlah kabar bagi setiap murid bahwa mereka bebas belajar sekarang,
menggapai cita, asa, dan memenuhi kewajiban. Sebagaimana telah diterangkan,
wajibnya menuntut ilmu bagi setiap muslim, sebagaimana wajibnya sholat,
sebagaimana wajibnya zakat. Dan katakanlah keharibaan merekan. Jika engkau hai
para murid ingin belajar, maka tutup mulutmu rapat-rapat, dengarkanlah
baik-baik, dan berpikirlah. Sehingga engkau mendapati pengetahuan dan
bermukallab, mengetahui mana yang baik dan yang buruk. Hendaknya tidak memaksa
mereka mengajar. Sebab bagaimanalah ddemikian, mereka datang lah untuk belajar,
sebab masih merasa bodoh, karenanya menjadi murid. Kalaulah sudah berilmu, maka
bolehlah mengajar jika sudah merasa mampu. Kalaulah dipaksa pula, anehlah murid
mengajar murid itu, samalah orang bodoh mengajar orang bodoh. Hasilnya?, bodoh
juga. Guru telah berpesan, “Carilah guru yang terbaik agar kau dapatkan ilmu
yang terbaik”. Oleh karena itu, jika tidak sanggup mengajar, hendaknya tidaklah
dipaksa mengajar. Namun, kemauan, niat, usaha, tentunya patutlah tetap dihargai
sebagai jalan maksimal berjalanya proses pendidikan, proses penempaan diri.
Ajarilah kami selalu sesuatu yang tertinggi ibu. Maafkanlah selalu atas
kehilafan-kehilafan kami bunda. Beri contoh selalu kami tentang bagaimana cara
terbaik untuk berbesar hati bapak. Kalian akan menciptakan
perdamaian-perdamaian baru, kemuliaan-kemuliaan baru, keluhuran-keluhuran baru,
perubahan-perubahan baru, kemenangan-kemenangan baru, penyingkapan-penyingkapan
kebenaran yang sustainable. Kalianlah yang akan mengumpulkan para jendral, para
pelopor, para pioneer, para pemimpin, para pejuang, para pahlawan, para
pengajar, para pemenang, para pembelajar, para pembenar, para pengorban, dan
para pengasih dan penyayang dari seluruh jagat dalam satu kata,
“kesejahteraan”. Biarkan senyum para orang tua kami melebar, pun senyum kalian
melihat kami terus maju, maju sebagai bagian tak terpisahkan atas bangsa ini,
maju tanpa henti belajar ilmu-ilmu baru tanpa harus berulang membuang kemuliaan
waktu, tenaga, biaya, untuk kedua kalinya. Bantulah kami mengubah garis hidup
kami, garis hidup negara ini sebagaimana benar-benar indah. Seindah lakumu
guru. Kiranya secarik surat ini akan menjadi pelajaran berharga bagi kita
semua. Tidak bermaksud menghina, mencibir, mengawali perdebatan gaya benang
kusut, hanya berusaha menempatkan kebenaran, dan menyuguhkanya dari perspektif
yang berbeda. Salam bagi wajah pendidikan Indonesia, salam bagi wajah
pendidikan Dunia.
Dari : Bayi
berlari
Mahasiswa Hubungan Internasional

No comments:
Post a Comment
Please comment by your kindness....thanks for your visit... : )