Tuesday, July 16, 2013

Dari para “Guru” untuk para “Guru”


Dari para “Guru”
untuk para “Guru” 






“ Tidaklah seseorang memiliki hati nurani kecuali dididik oleh orang yang memiliki hati nurani”

            Jika ilmu adalah refleksi tingginya drajat, maka belajar adalah jalan absolut untuk menggapainya. Transfer energi dari sebuah buku penyulut imajinasi, anestesi, meme, persepsi, asumsi, iman, jendela dari pengetahuan sebagai pijakan awal tindakan mengayuh kapal fikiran untuk berlabuh. Perhatikanlah, dunia ini berdiri kokoh beratapkan langit dengan berbagai hal positif, negatif, nilai yang bertabrakan tanpa henti, hitam putih abu-abu, rona wajah mengkerut tanda lelah. Bayi-bayi lahir tiiap hari sehingga, ingin aku mengucapkan selamat datang kedunia kawan. Bersiaplah menerjemahkan dilalah: permusuhan, pengajaran, jeratan utang, konsentrasi, organisasi, peruntungan, kebijaksanaan, dan segala bentuk fenomena pengantar tidur, diakhir waktumu. Kesejahteraan sejati adalah saat dimana setiap tindakan melibatkan hati sebagai penasehat raja, “engkau” hai manusia. Confusius berkata, “Sesungguhnya pembangunan yang terbaik adalah pembangunan manusia. Bukan masalah siapa yang berbicara, isi lebih penting dan utama daripada kulit. Bahwa hal demikian adalah kebenaran, maka timbullah kewajiban bagi hati menerima dan membenarkan. Kelak jika engkau menjadi seorang guru, yang mengiringi perkara yang demikian. Perkara dimana antisipasi pencegahan penyakit peradaban itu dilakukan. Maka jadilah engkau seseorang yang memiliki hati yang besar. Diatas waktu dimana beberapa saling menghina satu sama lain sedang dilain pihak saling memaafkan tanpa harus berbicara bahkan. Adalah bodoh seseorang yang menghina seorang yang telah memberi dan mengajarkan ilmu, lebih-lebih mengumpatnya, atau memakan daging saudaranya sendiri. Sadarkah engkau diatas langit masih ada langit. Seorang guru telah berpesan, “Tak selamanya guru lebih pandai daripada murid, nak. Suatu saat aku boleh jadi belajar suatu ilmu darimu”. Namun penghargaan tertinggi bagi seorang guru adalah abadi, itu merupakan sesuatu yang mutlak. Tapi toh, siapa yang tahu rahasia hati. Tapi orang bilang, yang kita lakukan adalah yang kita pikirkan. Tindakan, ucapan, tensi, formalitas, pucat pasi adalah bentuk cerminan dari seberapa tinggi kepribadian rasa besutan jiwa itu. Pandanglah mata, dia memiliki arti. Disitu bergejolak berbagai rasa silih berganti maupun bersamaan, takut, malu, berani, senang, sedih, kesombongan, atau kerendahan hati yang mulia. Ingin rasanya kembali bertamu ke masa di taman-taman balita. Bercengkrama  kembali dengan para guru yang amat sangat sabar, amat rela berkorban, amat mudah memaafkan, amat menggunakan hati guna berinteraksi, bebas tendensi, cengkringan para penjilat, pragmatisme negatif. Mengakomodir tanpa mebedakan ras, warna kulit, tampan, cantik , buruk rupa, laki, perempuan, miskin, kaya, aktif, pasif, berorang tua, yatim, bodoh, pandai, rapi, kusut. Yang ada hanyalah usaha untuk merubahnya menjadi lebih baik. Tentu lebih sulit memutihkan kain hitam menjadi kembali cerah daripada mengubah dari sekadar kain putih yang kusam sahaja. Kita adalah manusia, yang memiliki otak yang berbeda-beda, pola pikir yang berbeda—beda, persepsi yang berbeda, cara kerja yang berbeda-beda, sebab tumbuh di tempat berbeda, ditanami nilai-nilai yang berbeda, tempat dan struktur sosial yang berbeda, adat dan gaya bahasa berbeda, sehingga punya cara berbeda untuk belajar. Maafkan atas kelancangan yang jika telah diperbuat menyinggung guru. Sebab sejatinya kami manusia, tempatnya salah dan lupa. Kendati kita berakal.
  


             Sesuatu yang berbeda. Sebuah fenomena, gambaran, penakjuban, refleksi dari sepotong film kehidupan diatas yang menampakkan suatu tafsir, suatu arti. Dua hal yang saling bertentangan ibu, dua hal yang berbeda, antara muda dan tua, antara menanam dan memanen, antara berjalan dan berkendara, antara yang buntung dan tumbuh subur sebagai pohon kehidupan, dan antara pemula dan berpengalaman. Kita mendapati foto diatas sarat makna serta  pelajaran hidup. Perhatikanlah, dua anak dengan selubung merah putihnya. Dan seorang tua dengan kereta anginya. Dua anak yang sangat percaya bahwa engkau mampu mengubah hidup mereeka, memberi mereka secarik lilin buat digunakan meneruskan perjalanannya tanpa berpangku tangan. Engkau bicara, kehidupan diluar sana sangatlah keras, tapi engkau kekang kami. Janganlah engkau persulit orang mencari ilmu, mudahkanlah kami, semoga engkau pun dipermudah dalam hal kebaikan. Lepaskanlah kami dengan keikhlasan, keihsanan, keridhoan, dan doamu wahai para pengajar, agar kami selamat pun bermanfaat. Suatu objek holistik yang menyuguhkan selayang pandang benih-benih padi yang baru ditanam. Itu ibarat kami bunda, yang nantinya akan menerima tongkat estafetmu dan meneruskan perjalanan peradaban. Sebagaimana padi di belakang dan pepohonan rindang yang tumbuh subur sampai akhir hayat. Kami pun yakin, sesungguhnya anda pun tak ingin, perjalanan kami terputus sebagaimana pohon yang patah ditengah peerjalanan antara muda dan tua itu, antara hidup dan mati, antara si kanak dan kereta angin. Namun antara menanam dan memanen, antara padi yang baru mulai dewasa, dan yang sudah hampir dipanen. Jika menanam maka kemungkinannya ada dua, kalau tidak berhasil ya gagal. Tapi, kalaulah tidak pernah menanam, sudah pasti gagal. Ketahuilah guru, cara mengajari kami terbang adalah dengan membiarkan kami keluar dari sarang dan mengepakkan sayap kami lebih lebar, memberanikan diri terjun dari atas pohon yang tinggi, meskipun itu berbahaya. Kami hanyalah bijih-bijih pelok dari negri ini, yang berangkat ke majlis-majlis ilmu hanya dengan berbekal senyum-senyum para orang tua, berkantong senyum para the founding father, senyum para ulama, senyum para wali, senyum para sahabat Muhammad, senyum para nabi, dan senyum para Rosul, semoga tidak terpatahkan hal demikian. Sesungguhnya menuntut ilmu dengan mengikatkan diri dengan penjara kelas anak-anak berlabel LP. Sekolah bukanlah satu-satunya jalan, bukanlah satu-satunya pilihan untuk terdidik. Sekolah tidaklah wajib, menuntut ilmulah yang wajib. Bukan berarti lembaga pemasyarakatan besutan kementrian pendidikan negara itu tidak baik, hanya saja menjadikanya seolah-olah ketunggalan mutlak, sebagai institusi represif yang harus ditaati, yang pengakuanya diagung-agungkan lewat nilai-nilai hitam putih, diatas kertas, yang menganggap tes-tes didalamnya adalah pengujian yang paling sempurna, sehingga menghasilkan berbagai virus  abad modern. Penjilatan, pragmatisme, dan brainstorming yang menjangkiti pola pikir, yang menjadikan kami hanya rela dengan tinta dan kertas, pengakuan semu. Sebenarnya diri kita toh tidak dapat diukur dari nilai-nilai itu dengan sebenar-benarya parameter, sebenar-benarnya pengukuran, validitas, otentitas. Akan tetapi bahwa itu sudah menjadi ketetapan negara untuk kami agar dapat melanjutkan pencarian abadi pengetahuan demi kesejahteraan itu, memang benar adanya.  Tanpanya, jalan kami akan terasa berat, pandangan kami letih, dan kesulitan bertingkah saat fajar pagi hari menyapa kami dan berkata, bagaimana kabarmu hari ini, pendidikanmu?. Biarkan kami tetap tersenyum setiap pagi menghadap mentari dan berceritera kepadanya bahwa mereka para guru telah mengajarku dengan luhur. Maka dari itu, mohon mudahkan diri kita untuk bersama-sama saling menopang, saling berpegangan erat, menjaga peradaban dimasa tawuran yang sudah menjadi ekstrakulikuler, kemiskinan, pengangguran bertitel, pergaulan kejahilan, tindakan yang semakin tanpa berfikir, lupa yang semakin menjadi, yang menghinggapi setiap fikiran, hati dan jiwa para penguasa, para saya, engkau, kami, kita, mereka, dia, dan setiap yang berakal serta bernafsu. Jika diam itu emas, maka bicara itu apa?. Sesungguhnya engkau wahai para guru, tukang peradaban, telah memberikan bagi kami penerangan serta kemuliaan untuk diperjuangkan. Sebagaimana engkau katakan, bahwa hidup, adalah perjuangan. Setiap perjuangan membutuhkan pengorbanan. Tak mau berkorban jangan berjuang. Dan tak mau berjuang jangan hidup. Terima kasih telah senantiasa menunjuki contoh perjuangan serta pengorbanan yang terbaik. Berikanlah kabar bagi setiap murid bahwa mereka bebas belajar sekarang, menggapai cita, asa, dan memenuhi kewajiban. Sebagaimana telah diterangkan, wajibnya menuntut ilmu bagi setiap muslim, sebagaimana wajibnya sholat, sebagaimana wajibnya zakat. Dan katakanlah keharibaan merekan. Jika engkau hai para murid ingin belajar, maka tutup mulutmu rapat-rapat, dengarkanlah baik-baik, dan berpikirlah. Sehingga engkau mendapati pengetahuan dan bermukallab, mengetahui mana yang baik dan yang buruk. Hendaknya tidak memaksa mereka mengajar. Sebab bagaimanalah ddemikian, mereka datang lah untuk belajar, sebab masih merasa bodoh, karenanya menjadi murid. Kalaulah sudah berilmu, maka bolehlah mengajar jika sudah merasa mampu. Kalaulah dipaksa pula, anehlah murid mengajar murid itu, samalah orang bodoh mengajar orang bodoh. Hasilnya?, bodoh juga. Guru telah berpesan, “Carilah guru yang terbaik agar kau dapatkan ilmu yang terbaik”. Oleh karena itu, jika tidak sanggup mengajar, hendaknya tidaklah dipaksa mengajar. Namun, kemauan, niat, usaha, tentunya patutlah tetap dihargai sebagai jalan maksimal berjalanya proses pendidikan, proses penempaan diri. Ajarilah kami selalu sesuatu yang tertinggi ibu. Maafkanlah selalu atas kehilafan-kehilafan kami bunda. Beri contoh selalu kami tentang bagaimana cara terbaik untuk berbesar hati bapak. Kalian akan menciptakan perdamaian-perdamaian baru, kemuliaan-kemuliaan baru, keluhuran-keluhuran baru, perubahan-perubahan baru, kemenangan-kemenangan baru, penyingkapan-penyingkapan kebenaran yang sustainable. Kalianlah yang akan mengumpulkan para jendral, para pelopor, para pioneer, para pemimpin, para pejuang, para pahlawan, para pengajar, para pemenang, para pembelajar, para pembenar, para pengorban, dan para pengasih dan penyayang dari seluruh jagat dalam satu kata, “kesejahteraan”. Biarkan senyum para orang tua kami melebar, pun senyum kalian melihat kami terus maju, maju sebagai bagian tak terpisahkan atas bangsa ini, maju tanpa henti belajar ilmu-ilmu baru tanpa harus berulang membuang kemuliaan waktu, tenaga, biaya, untuk kedua kalinya. Bantulah kami mengubah garis hidup kami, garis hidup negara ini sebagaimana benar-benar indah. Seindah lakumu guru. Kiranya secarik surat ini akan menjadi pelajaran berharga bagi kita semua. Tidak bermaksud menghina, mencibir, mengawali perdebatan gaya benang kusut, hanya berusaha menempatkan kebenaran, dan menyuguhkanya dari perspektif yang berbeda. Salam bagi wajah pendidikan Indonesia, salam bagi wajah pendidikan Dunia.

Dari : Bayi berlari
            Mahasiswa Hubungan Internasional

No comments:

Post a Comment

Please comment by your kindness....thanks for your visit... : )